Home Blog Page 3

Janganlah kamu kuatir akan hari besok

“Munira, kamu hanya punya waktu lima menit sebelum saya membunuhmu. Mana yang kamu pilih – keluargamu atau Yesus?”

Selama berbulan-bulan Munira berusaha merahasiakan imannya, ia sangat mengasihi keluarganya dan tidak ada maksud menyakiti mereka. Namun ketika ayahnya mengatur pernikahan untuk Munira, ia terpaksa mengatakan kepada mereka tentang kasihnya bagi Kristus.

Munira sangat depresi dan merasakan bahwa imannya semakin terkikis. Ia menjawab ayahnya, “Aku harus memilih Yesus.” Ayahnya sangat marah karena anak perempuannya berpaling dari keluarganya dengan mengingkari latar belakang kepercayaan keluarganya. Ayahnya memukulinya selama dua jam.

Tetapi Tuhan campur tangan. Seorang rekan Kristen membawanya ke tempat yang aman selama beberapa waktu.

Munira berkata, “Selama masa pengungsianku, Tuhan menyatakan kesetiaan-Nya kepadaku. Setelah beberapa waktu yang dihabiskan dengan berdoa, dan berdiam diri di hadapan Tuhan, aku akhirnya tiba pada kesadaran bahwa sudah tiba waktunya untuk berdamai dengan keluargaku yang terkasih.”

Saat ia kembali ke rumah, setiap orang bahagia kecuali ayahnya. Kalimat pertamanya, “Ayah benci kamu! Keluar! Anakku telah mati tiga bulan yang lalu!”

Karena hancur hati, Munira menangis di kaki ayahnya dan berkata, “Tuhanku berkata kepadaku untuk kembali kepada Ayah. Aku tidak akan meninggalkan Ayah sekalipun Ayah memukuli dan membunuhku.”

Ayahnya luluh hatinya dan memeluk Munira. Dan Ayahnya mulai membuka hati kepada iman baru Munira dan akhirnya bahkan menyetujuinya untuk masuk Sekolah Alkitab.

Seringkali kita ingin dengan segera mengetahui pengakhiran dari segala sesuatu. Sayangnya kehidupan itu bukanlah seperti sebuah buku di mana kita bisa melangkahi bab-bab awal dan langsung ke bagian akhir dari buku itu. Kita tidak dapat membaca cepat kisah hidup kita.

Seperti Munira, kita harus melewatinya bab demi bab, satu hari dalam satu waktu. Dan jika kita tetap taat sekalipun keadaan terlihat begitu mustahil, namun jika kita bertahan, seperti Munira, kita tidak akan kecewa melihat hasilnya.

Apakah kita gelisah melihat hasil ketaatan kita pada saat ini? Apakah kita tidak sabar ingin mengetahui apa yang Tuhan rencanakan beikutnya untuk kita? Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah untuk taat pada hari ini dan menyerahkan hari esok kepada Tuhan.

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari – Matius 6.34

 

 

 

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:
Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.
Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.
Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.
Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.
Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber: cahayapengharapan.org

Tuhan akan Berkerja kalau Kita Setia

Photo by Chris Bosak A European Starling in winter plumage perches on an old sunflower stalk, Dec. 2014.

Shaloom,

Saya Albina, saya mau menceriterakan kesaksian saya tentang buletin gratis yang dikirim ke saya di Timor Leste.

Kesaksiannya seperti ini: saya memberi kursus komputer di sebuah daerah di Dili, kursusnya untuk semua kalangan, dan kebetulan kami punya sepuluh komputer, jadi setiap kali pelajarnya bisa mencapai sampai 20 orang. Kami telah memulai kursus pada bulan Maret lalu.

Mengingat semua peserta kursus masih bukan Kristen, saya mengusulkan agar setiap seminggu sekali kami memulai kursus dengan sebuah renungan. Puji Tuhan semua peserta setuju.

Saya memutuskan untuk selalu memulai kelas pada hari Rabu dengan 15 menit renungan. Awalnya walaupun mereka setuju tapi masih ada satu dua orang yang sepertinya tidak mau mendengarkan saat saya membagikan renungan. Kami juga sepakat untuk memulai kelas dengan doa sesuai dengan kepercayaan masing-masing.

Pada minggu ketiga yang mana saya membagikan renungan dan berdoa, ada satu peserta yang secara terang-terangan menunjukan sikap tidak mau mendengarkan. Setiap kali saya membagikan renungan atau berdoa dia akan selalu berisik. Dia akan membunyikan keyboard komputer lah, mouse atau berbisik sendiri-sendiri atau malah berdiskusi secara pelan-pelan dengan teman di sampingnya untuk mengalihkan perhatian temannya itu.

Pada minggu yang lalu ini saya hampir putus asa, saya berdoa dan meminta petunjuk Tuhan, yang pasti saya sudah hampir tidak mau lagi membagikan renungan pada hari Rabu minggu ini. Tapi pada awal minggu ini saya mendapatkan kiriman buletin gratis dari Cahaya Pengharapan.

Dalam buletin itu saya mendapatkan satu cerita tentang logika yang sederhana, saya membagikan cerita itu ke peserta kursus yang saya sertai dengan ayat tentang Iman di Ibrani 11.1. Saya mulai bersaksi bagaimana saya benar-benar merasakan adanya Tuhan lewat iman saya. Saya juga memberikan contoh lain seperti kopi segelas, kalau kita tidak meminumnya dan merasakan langsung dengan mulut kita, kita tidak akan tahu apakah kopi itu terlalu manis, atau pahit, sama halnya dengan pengenalan kita akan Tuhan. Kalau kita hanya mendengar tanpa pernah merasakan jamahan kasih-Nya secara nyata dalam hati maka semua itu percuma saja.

Saat saya sedang berbicara saya dapat melihat peserta yang selalu berulah itu sangat tenang mendengarkan. Tak lama kemudian saya melihat matanya berkaca-kaca seperti mau mengeluarkan air mata. Saya melihatnya mengangkat mukanya ke atas untuk  menahan agar air matanya tidak jatuh. Hati saya dipenuhi ketenangan dan sukacita. Saya percaya bahwa renungan kali ini ada sesuatu yang beda.

Saya mengakhiri renuangan dengan doa memohon berkat untuk semua peserta dan sekaligus memohon penyertaan Tuhan dalam kursus kami. Kali ini, saat saya berdoa saya tidak lagi mendengarkan suara bisikan atau bunyi komputer maupun keyboard.

Saat kami selesai kursus, pelajar yang selalu berulah itu memberi saya salam sebelum dia keluar dari ruangan dengan mengucapkan, “Selamat malam dan sampai jumpa lagi”. Saya agak kaget karena selama beberapa minggu ini, dia tidak pernah menunjukkan hormat sama sekali.

Saya yakin sekali bahwa saya telah menaburkan benih dan suatu saat nanti dia tidak akan bisa mengelak dalam menghadapi kenyataan tentang Tuhan.

Satu hal yang saya petik dari pengalaman ini adalah bahwa di saat kita hampir putus asa Tuhan akan melakukan bagian-Nya asal kita jangan berhenti untuk melanjutkan apa yang kita bisa lakukan untuk membantu yang lain. Saya mohon ampun kepada Tuhan karena saya hampir menyerah dengan ulah orang itu.

Sekarang saya bertekad untuk terus tetap membagikan benih kasih Tuhan karena saya tahu bahwa walaupun ada kalanya orang sepertinya tidak mau mendengarkan tapi mereka sebetulnya sangat membutuhkan. Puji Tuhan dan terima kasih untuk Cahaya Pengharapan, kiranya Tuhan selalu memberkati.

Salam dari Dili, Timor Leste.

 

 

 

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:
Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.
Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.
Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.
Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.
Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber: cahayapengharapan.org

Usia Tua Bukan Untuk Para Penakut

Catatan editor: Pendeta Billy Graham sudah tidak lagi melayani permintaan wawancara langsung, akan tetapi dia masih bersedia untuk menerima pertanyaan tertulis. Graham berulang tahun yang ke-91 pada 7 November 2009, dan berikut adalah wawancara tertulis dengan Bob Smietana, seorang penulis buku.

Bob Smietana (BS): Ada banyak orang yang, karena penyakit dan rasa kesepian, merasa diabaikan oleh Allah. Mereka telah kehilangan semangat hidup karena tidak mampu lagi mengurus diri mereka atau melakukan pekerjaan sebagaimana biasanya. Hal ini pasti akan terasa sangat berat bagi mereka yang telah mencurahkan sepanjang hidupnya untuk melayani orang lain. Bagaimana pendapat Anda tentang orang-orang yang semacam itu jika dikaitkan dengan pengalaman Anda menghadapi kesulitan hidup di hari tua Anda?

Billy Graham: Nah, kita semua tahu tentang pepatah tua yang mengatakan bahwa usia tua itu bukan untuk para penakut. Dan semakin tua umur saya, semakin saya sadari bahwa pepatah itu ada benarnya. Saya akui bahwa saya tidak suka dengan beban akibat usia tua ini, berkurangnya tenaga, menurunnya kemampuan tubuh, kepedihan akibat kehilangan banyak teman dan orang-orang yang Anda kasihi yang telah meninggal. Namun kita bisa memilih untuk mengizinkan hal-hal tersebut mengecewakan kita, atau belajar untuk menerima kenyataan serta mendapatkan pelajaran dari Allah bagi kita lewat semua hal itu.

Sebagai contoh, sekarang ini saya sudah tidak bisa lagi melakukan hal-hal yang pernah saya kerjakan sebelumnya, dan sejujurnya, ada kalanya saya berharap untuk bisa mengerjakan semua itu lagi. Ada sebagian orang tua yang marah atas keadaan ini, ada yang merasa tidak berguna lagi, atau seperti yang Anda sebutkan tadi, mereka merasa telah diabaikan oleh Allah.

Namun hal ini tidak benar. Kasih Allah kepada kita tidak bergantung pada keadaan atau perasaan kita. Di kala saya sudah tidak bisa lagi mengerjakan hal-hal yang menjadi pekerjaan saya sebelumnya (dan Allah juga tidak mengharapkan saya untuk terus bisa mengerjakannya), saya masih bisa  mengerjakan beberapa hal dan itulah hal yang Allah ingin untuk saya kerjakan.

Sekarang saya punya lebih banyak waktu untuk berdoa; waktu untuk mendorong semangat anak dan cucu saya serta orang lain juga; lebih banyak waktu untuk merenungkan kebaikan Allah kepada saya selama bertahun-tahun ini. Saya selalu berdoa supaya Allah berkenan menolong saya untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain. Namun beban hidup ini tentunya akan mengingatkan kita akan hal yang lain bahwa: Dunia ini bukanlah tujuan akhir hidup kita. Beban-beban yang kita tanggung sekarang ini hanya bersifat sementara saja.

Istri saya, Ruth, telah meninggal hampir dua tahun yang lalu, dan setiap hari saya sangat merindukan dia. Namun suatu hari nanti kami akan berkumpul bersama di surga – di hadirat Allah untuk selama-lamanya, terbebas dari beban hidup masa kini. Jika harapan kita sepenuhnya ada pada Kristus, maka kita tahu bahwa kita semua hanyalah pengembara di dunia ini, yang sedang berjalan ke rumah kekal kita di surga. Usia tua seharusnya membuat kita bisa menatap masa depan di surga dengan penuh sukacita.

Sebagian Jemaat, dan hal ini menguatirkan hati saya, tidak menyadari betapa penuh tekanannya pekerjaan seorang pendeta itu. Kita perlu untuk berdoa bagi para pendeta, dan para pemimpin jemaat perlu secara khusus mewaspadai persoalan-persoalan yang menimpa pendeta mereka dan melakukan segala yang bisa mereka perbuat untuk menolong dan menguatkan para pendeta ini.

Hal pertama yang sering saya sampaikan kepada para pendeta atau misionaris baru adalah agar mereka tetap dekat dengan Kristus. Allah memanggil mereka ke dalam pelayanan ini, dan hanya Dia yang bisa memberikan hikmat serta kekuatan yang mereka butuhkan, lewat Roh Kudus-Nya.

Sangatlah mudah untuk menjadi sangat sibuk dalam pelayanan sampai kita gagal meluangkan waktu untuk bersama dengan Allah di dalam doa dan pendalaman Alkitab – hal yang jauh lebih penting dari segala hal yang lainnya. Semua pendeta harus memiliki susunan prioritas yang jelas. Hal ini berlaku untuk kita semua, tapi terutamanya buat semua pendeta yang sibuk, karena terdapat begitu banyak tuntutan ke atas diri mereka.

Saya sering berkata bahwa jika saya bisa mengulangi hidup saya lagi, maka saya akan meluangkan lebih banyak waktu untuk belajar, dan saya akan meluangkan lebih banyak waktu bersama keluarga saya. Kadang kala, kita perlu berkata, “Tidak,” atas permintaan dan tuntutan yang disampaikan ke kita; ada hal lain yang mungkin lebih penting di mata Allah.

Saya pernah dengar ada pendeta yang berkata bahwa dia harus mengadakan rapat setiap malamnya, dan cara dia bercerita jadi mirip dengan orang yang sedang membual tentang kesibukannya. Saya tidak habis pikir, apakah dia pernah benar-benar belajar untuk mengelola waktunya. Saya juga menguatirkan keluarganya. Saya juga bertanya-tanya apakah dia pernah belajar untuk mendelegasikan tugas, dan belajar untuk melibatkan orang lain di kalangan Jemaatnya untuk ikut dalam pelayanan. Pendeta bukan orang yang harus mengerjakan segala-galanya – ini bukanlah pola yang alkitabiah. Kita juga harus belajar untuk mengurusi diri kita, tidak peduli siapapun kita ini. Yesus dan murid-murid-Nya membutuhkan saat beristirahat – demikian pula kita: “Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’ Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.” (Markus 6:31)

BS: Bagaimana Anda menjalani hidup tanpa ditemani Ruth?

Billy Graham: Ruth adalah sahabat terdekat dan juga penasihat saya selama 64 tahun masa pernikahan kami, dan saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana menjalani hidup tanpanya. Saya bersukacita bahwa dia sekarang sudah aman di hadirat Tuhan yang dia kasihi dan layani dengan setia – akan tetapi saya sangat merindukan dia. Saya selalu memikirkan dia setiap hari – hampir setiap jam – dan saya menantikan saat di mana kami akan disatukan lagi di surga.

Pada saat yang bersamaan, penghiburan dan kasih karunia Allah terasa begitu nyata bagi saya. Lebih dari yang pernah saya alami sebelumnya, seperti yang digambarkan oleh rasul Paulus ketika dia menyebut Allah sebagai, “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” (2 Korintus 1:3-4).

Saya juga sangat beryukur pada keluarga dan teman-teman yang membuat saya jarang merasa sendirian. Akan tetapi kepedihan itu memang nyata, dan tentunya akan mengingatkan kita pada kebutuhan kita pada Allah. Kepedihan itu juga mestinya mengingatkan kita akan harapan kita pada surga oleh kematian dan kebangkitan Kristus bagi kita. Kesedihan itu nyata – namun Kristus juga nyata.

 

 

 

 

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:
Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.
Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.
Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.
Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.
Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber: cahayapengharapan.org

“Siapapun yang Mengaku Dirinya Kristen patut Mati!”

Seorang martir adalah orang yang telah menjadi alat Allah, orang yang telah kehilangan kehendaknya dalam kehendak Allah, orang ini tidak kehilangan tapi mendapatinya dalam penyerahan diri kepada Allah. Seorang martir tidak lagi menginginkan segala sesuatu bagi dirinya sendiri, bahkan kemuliaan dari kematiannya sekalipun. – TS Elliot di bukunya, Pembunuhan di Katedral

Orang Kristen mula-mula dikenal dalam dua hal ini:  doa di bawah tanah dan penaniayaan di atas tanah. Seluruh dunia menentang orang-orang Kristen di Kekaisaran Romawi. Pada tahun 162 Marcus Aurelius Antonius menandatangani sebuah undang-undang yang mengatakan, “Siapapun  yang mengaku dirinya Kristen patut mati dengan cara yang paling menyakitkan!”

Suatu periode selama kurang lebih empat abad kerahsiaan yang ekstrim mulai dijalankan di gereja. Dapat dikatakan bahwa gereja berjalan secara sembunyi-sembunyi, menciptakan keberadaan katakomba Roma. Katakomba adalah lubang di bawah tanah tempat persembunyian atau makam orang Kristen.

Ruangan dan koridor dalam jumlah besar dibangun di bawah tanah Roma untuk memakamkan orang-orang yang meninggal. Kemudian tempat ini menjadi gereja rahasia Jemaat mula-mula. Orang-orang percaya menemukan tempat di mana mereka dapat menyembah Allah dan berdoa tanpa halangan dan penjagaan.

Katakomba ini menunjukkan dediaksi Jemaat mula-mula dalam mencari tempat untuk menyembah Kristus. Tulang belulang yang hancur dan terbakar menunjukkan betapa mengerikannya aniaya yang mereka derita. Hal yang paling utama adalah tulisan di dinging yang merupakan catatan rahasia mengenai kemenangan dan kedamaian. Meskipun di atas mereka diperhadapkan dengan kekejaman, di bawah tanah mereka menghiasi dinding dengan simbol-simbol iman mereka dan kedamaian melalui salib.

Pada makam-makam itu seringkali didapati tulisan seperti: “Kemenangan dalam damai dan Kristus” atau “Dipanggil, dia pergi dalam damai” atau “Di sini Maria berbaring, beristirahat bermimpikan kedamaian.” Kunci kemenangan bukanlah rahasia lagi : damai sejahtera sejati dalam Kristus Yesus.

 

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:
Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.
Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.
Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.
Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.
Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber: cahayapengharapan.org

Yesus, Tuhan dan Juru Selamat saya

Waktu saya masih kecil, orang tua saya memberi saya satu Alkitab bergambar. Kadang-kadang mereka membacakan Alkitab itu kepada kakak saya, Sara-Anne dan saya sebelum kami tidur. Ada kalanya orang tua saya juga menyanyikan himne kepada kami sebelum kami tidur.

Saya mengikuti orang tua saya ke gereja setiap hari Minggu dan saya senang mengikuti Sekolah Minggu. Setiap minggu, saya tidak sabar menantikan Sekolah Minggu karena para guru mengajarkan banyak lagu-lagu, permainan Alkitab dan menceritakan tentang kisah-kisah tentang Allah.

Suatu hari di tanggal 27 Agustus 2009 saat saya sedang liburan sekolah, saya membaca Alkitab saya di pagi hari dan juga sebelum tidur. Saya sangat tertarik untuk mengetahui lebih tentang Allah. Di keesokan harinya, saya bangun pagi dan melanjutkan pembacaan saya. Saya mendengar suara ibu saya memanggil saya untuk sarapan tapi ayah meminta saya meneruskan pembacaan saya. Pada malam tanggal 28 Augustus 2009, saya membaca di halaman di mana Yesus mati di kayu salib, dikuburkan dan dibangkitkan lagi di hari yang ketiga, dan ia berjalan bersama para muridnya dan bercakap-cakap dengan mereka.

Lalu ayah saya masuk ke dalam kamar saya dan saya bertanya kepadanya: “Mengapa Yesus bangkit dari kuburan tapi kita tidak dapat melihatnya sekarang?” Ayah saya menjawab: “Yesus berada di surga sekarang, kita tidak dapat melihatnya secara jasmani tapi Yesus dapat hidup di dalam hati kita jika kita mengakui dosa kita dan menerimanya sebagai Tuhan dan Juru Selamat(Lord and Saviour).”

Di saat yang bersamaan, ayah saya membalikkan halaman Alkitab saya ke tempat di mana terdapat gambar Yesus bersama Musa dan Elia berbicara di depan para muridnya. Wajah Yesus bercahaya dan suara dari langit yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”

Ayah saya bertanya apakah saya mau menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya dan saya berkata, “Ya.” Lalu ayah saya memimpin saya untuk berdoa dan saya menerima Dia. Keesokan harinya saya selesai membaca Alkitab bergambar saya. Malam itu juga saya dan ayah menyanyikan lagu memuji Allah karena menyelamatkan jiwa saya. Ayah membacakan sebagian dari Kitab Suci dari Matius 17.1-3 tentang pemuliaan Yesus. Kami sangat menikmati malam di mana kami memuji Allah bersama-sama.

Inilah kesaksian bagaimana saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya.

 

 

 

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:
Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.
Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.
Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.
Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.
Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber: cahayapengharapan.org

Apakah ada bedanya, jika kita berdoa atau tidak?

Sebagai seorang Kristen, saya merasa diri saya sangat kurang dalam hal berdoa. Dan saya menemukan bahwa saya tidak sendirian dalam hal ini. Sangat ironis bahwa seorang Kristen mempunyai penghargaan yang begitu besar untuk berkomunikasi dengan Allah semesta alam, namun kita bergumul untuk berkomunikasi dengan-Nya.

Saya mulai bertanya mengapa ada doa yang dijawab dan ada yang tidak? Mengapa ada kalanya kita berhadapan dengan tembok bisu Allah. Apakah ada bedanya jika satu orang atau sepuluh juta orang yang berdoa untuk kesembuhan seseorang? Apakah doa mengubah Allah atau mengubah kita? Mengapa menyampaikan sesuatu kepada Allah padahal Dia sudah mengetahuinya? Jadi pada intinya, pertanyaan saya adalah apakah ada bedanya jika kita berdoa atau tidak?

Thomas Merton pernah berkata bahwa dalam hal berdoa kita semua adalah pemula (beginners). Dan hal ini sedikit menghibur saya.

Sebagai anak kecil, doa saya sangat tradisional seperti kita semua. Kita mau Allah menuntaskan permasalahan kita, apakah untuk mencarikan barang-barang kita yang hilang ataupun menyembuhkan anjing kita yang sakit. Saya yakin Allah menjawab doa-doa saya pada waktu itu, sekalipun tidak semua. Bahkan di saat itu, saya sudah mulai bertanya, mengapa tidak semua doa terjawab? Bagaimana memahami misteri doa?

Bagi saya, doa beralih dari pendekatan di mana kita bertransaksi dengan Allah kepada meluangkan waktu bersama Allah. Sejalan dengan pertumbuhan saya, saya merasakan tembok pemisah di antara doa dan kehidupan seharian saya semakin kurang kentara. Saya melihat doa sebagai perenungan sepanjang hari bersama Allah, yang selalu ada dan merindukan perhatian kita. Di pihak kita, kita perlu menyetel frekuensi kita agar kita berada di gelombang yang sama dengan Allah, dan ini sudah tentu membutuhkan perhatian dan displin.

Dengan berjalannya waktu, saya menjadi lebih santai tentang doa. Ada yang bertanya apakah saya sedang melakukannya dengan benar. Menurut saya, seperti yang saya tuliskan dalam buku saya (Doa: Apakah ada dampaknya?), selagi Anda berdoa, Anda melakukan dengan benar. Dalam penelitian saya, saya menemukan berbagai macam pendekatan dan gaya doa, yang sesuai dengan pelbagai watak dan kepribadian orang.

Masalahnya adalah kita menjalani hidup yang penuh dengan kebisingan: email, faks, televisi, radio, internet. Untuk mendengarkan Allah kita perlu berhenti dari semua kegiatan dan memberikan perhatian kepada Allah. Untuk bisa melakukan ini sepanjang hari, saya membutuhkan keahlian yang tinggi, yang menuntut saya untuk berlatih seumur hidup saya.

Bagi saya alam sangat membantu. Alam memenuhi saya dengan kemuliaan dan pujian. Alam merupakan satu petunjuk yang mengarahkan saya kepada Allah. Melihat terumbu karang yang unik dan bunga-bunga liar di hutan memberitahu saya seperti apa Allah itu dan ciptaan-Nya menimbulkan rasa syukur yang luar biasa di dalam hati saya. Karena hati saya dipenuhi rasa syukur, saya mencari-cari kepada siapa saya harus berterima kasih.

“Diamlah dan ketahuilah bahwa Aku Tuhan,” kata salah satu pemazmur. Doa merendahkan saya karena ia mengingatkan saya bahwa saya bukan pusat bagi alam semesta ini, dan di saat yang bersamaan, hal berdoa, meninggikan saya karena saya diberi jaminan bahwa Allah peduli bahkan pada hal yang paling sepele dalam hidup saya.

Namun seringkali saya tidak menemukan jawaban dan harus mengandalkan iman dalam hal berdoa. Saya tidak akan pernah dapat menuntaskan misteri doa. Begitu banyak pertanyaan. Mengapa Allah tidak campur tangan di Auschwitz, dan karena Ia tidak campur tangan dalam hal yang sepenting itu, bagaimana saya mengharapkan Allah campur tangan dengan hal-hal dalam kehidupan saya, yang jika dibandingkan dengan Auschwitz begitu sepele? Saya kira tidak ada orang yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Pada intinya, doa adalah satu deklarasi atau pernyataan kepercayaan. Yesus memberikan kita model di Getsemani. Doanya dimulai dengan, “Biarlah cawan ini berlalu daripada-Ku,” kepada “Bukan kehendak-Ku, tapi kehendak-Mu yang jadi.” Sendirian, teman-temannya sedang tidur, dikeliling oleh para musuh-Nya, Dia juga merasakan perasaan terasing dan keputus-asaan yang ada kalanya juga kita rasakan saat kita berdoa.

Kehidupan doa saya juga ada jatuh bangunnya. Ada periode di mana berdoa itu kelihatannya sia-sia bagi saya, seperti satu kegiatan mengomel sendirian di dalam kegelapan dan kata-kata itu seolah-olah dipantul kembali kepada kita tanpa ada yang mendengarnya. Hal ini berlanjut sampai satu tahun. Pada waktu itu, saya berpaling kepada doa-doa orang lain, yang dari Alkitab maupun yang dari penulis-penulis besar yang lain. Saya meminta Allah menjadikan doa-doa mereka itu doa saya sendiri. Saya bersandar pada iman mereka di saat saya tidak memiliki iman saya sendiri. Lalu suatu hari, awan itu terangkat dan saya bertanya-tanya apa yang sebenarnya merupakan masalah saya.

Hal berdoa dapat saya samakan dengan kegiatan menulis saya. Saya tidak pernah duduk dan menanti datangnya inspirasi, jika saya melakukan itu, tidak akan ada buku yang tertulis. Saya bekerja keras setiap hari, menuliskan kata-kata di kertas sekalipun kata-kata itu sepertinya lemah dan tidak mantap. Namun saya terus melakukannya dan akhirnya akan ada hasil yang muncul.

Jika saya ditanya apakah hal yang paling sulit tentang hal berdoa? Bagi saya adalah bagaimana mendamaikan keengganan Allah untuk campur tangan dalam hal-hal besar seperti Auschwitz dan penghimbauan dari Alkitab yang meminta kita untuk mendoakan hal-hal yang kecil. Saya tidak dapat mendamaikan kedua hal tersebut.

Menurut saya, salah satu kekeliruan yang paling besar orang Kristen adalah menganggap persoalan doa sebagai satu transaksi dengan Allah, dan bukannya satu persoalan persahabatan. Hal berdoa bukan soal rumus atau prosedur. Doa itu bukan suatu displin tapi satu penghargaan. Saya menemukan banyak buku-buku yang bagus tentang doa dan kebanyakan buku-buku ini merupakan tulisan dari para penulis Katolik.

Menurut pengalaman banyak orang, jawaban-jawaban doa yang paling spektakuler selalunya didoakan oleh orang yang imannya baru bertumbuh. Seolah-olah ada satu prinsip kebalikan: semakin dewasa orang itu secara rohani, semakin banyak ujian yang datang, dan semakin kurang doanya akan dijawab sesuai dengan keinginannya.

Bagi saya sekarang, apa saja dapat diubah menjadi doa. Saat saya mengalami sesuatu yang indah ketika mendengar musik atau menikmati alam, saya mengubah itu menjadi suatu doa dan ucapan syukur. Saat saya bertemu dengan orang yang menguji kesabaran saya, saya mengubah itu menjadi doa untuk memohon bantuan. Hal-hal ini membantu saya untuk menerapkan doa di dalam setiap bagian kehidupan saya, tidak hanya di waktu khusus berdoa.

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber: cahayapengharapan.org

Apakah mimpi yang menyelamatkan wanita ini adalah pesan dari Allah?

MODESTO, Calif.—Ketika Anne Abruzzini dari Turlock, Calif., bermimpi di bulan Agusus 1997, dia tidak berpikir kalau itu akan menyelamatkan hidupnya.

“Saya bermimpi, dan saya tahu bahwa saya sedang bermimpi,” katanya. “Saya melihat wanita ini memakai pakaian dokter dengan rambut coklat. Saya berkata kepadanya saya merasa sakit di bagian payudara saya. Saya tidak mengalami sakit itu pada kehidupan nyata saya, dan saya berpikir, saya ini bodoh bermimpi seperti ini. Dalam waktu yang bersamaan, saya berpikir, wanita ini tidak kelihatan sedikitpun seperti teman saya yang seorang suster, maka mengapa saya memimpikan hal seperti ini?”

Kemudian dia terbangun.

“Hari itu adalah hari minggu, dan kami pergi ke gereja, dan saya berbagi mimpi saya dengan suami saya,” katanya. “Suami saya meraba dan merasakan adanya benjolan. Saya tidak pernah tahu ada benjolan disana.” Keesokan harinya, Anne pergi ke kantor dokternya. Dan dokternya merujukkan dia kepada seorang dokter bedah, yang bersedia bertemu dengannya pada hari Jumat.

“Saya tahu ahli bedah itu sudah capek dan sibuk hari itu,” kata Anne. “Dia mengusulkan untuk melupakan saja hal ini, dan saya memaksanya untuk melakukan biopsi. Kemudian dia melakukan biopsi pada sore hari itu. Ketika saya kembali ke ruangan itu untuk mendengarkan hasilnya, dia berkata kepada saya bahwa saya sudah memiliki kanker pada stadium 3. Itu adalah tumor yang besar. Dia ingin melakukan operasi itu dalam waktu beberapa hari. Saya berkata saya mau meminta opini kedua.

Maka ahli bedah itu merujukkan dia ke seorang onkologis. Anne pergi ke dokter itu dengan suaminya, Michael.

“Dia adalah seorang profesional dan  menjawab semua pertanyaan saya,” kata Anne. “Setelah dia pergi, suami saya berkata, “Dia sepertinya cukup baik.”

Saya berkata, “Saya pikir bukan dia dokter yang cocok buat saya.” Suami saya bertanya mengapa. Saya berkata, “Apabila saya akan meninggal karena kanker, saya mau seorang yang peduli saya. Meskipun mereka tidak dapat menyelamatkan saya, saya ingin seseorang yang memiliki belas kasihan.”

Kemudian dia berbincang dengan teman perempuannya yang juga sedang  mengidap penyakit kanker.

“Selama ini saya selalu mendukung dia, tidak saya sadari saya juga mengidap kanker itu,” kata Anne.” Dia merujukkan saya kepada dokter onkologinya dia yang berada di (San Francisco) daerah pantai.”

Ahli-ahli kedokteran lokal telah meminta Anne untuk melakukan mastectomi total – yaitu prosedur pengangkatan dua buah dadanya – ditambah dengan kemoterapi yang agresif dan intensif, dan perawatan radiasi setelah operasinya.

“Saya lebih memilih terapi yang konservatif; yaitu sedikit kemoterapi dan dimulai dengan pengangkatan benjolan,” kata Anne. “Saya pikir saya memiliki keberanian lebih karena mimpi itu dan merasakan bahwa Tuhan sedang memelihara saya. Ketika saya berkata hal itu kepada onkologi tersebut, dia bertanya apakah saya keberatan apabila dia akan merujukkan saya kepada rekan sekerjanya, seorang ahli bedah di (Universitas Kalifornia di San Francisco). Saya berkata baik.”

Ahli bedah tersebut dapat menemui dia pada hari itu juga sehingga dia dan suaminya tidak perlu kembali lagi di lain hari.

Ketika Dr. Laura Esserman berjalan ke ruangan tersebut, “Saya sangat terkejut,” kata Anne. “Itu adalah wanita dari mimpi saya. Itu sangat jelas sekali, perasaan deja vu, saya berkata kepadanya bahwa saya melihat dia di mimpi saya, dan saya tahu saya harus berada di sini untuk di rawat olehnya.

“Saya bertanya kepadanya apakah dia beriman pada Tuhan. Dia memberitahu saya bahwa hal-hal ini memang bisa terjadi dan dia percaya kepada Tuhan. Saya merasa bahwa orang yang beriman pada Tuhan akan memiliki rasa peduli. Itulah hal yang paling diperlukan.

Yang kedua, tentu saja, keahlian medisanya dan latar belakang pendidikan medisnya. Dia telah belajar di Harvard dan Stanford dan bertanggung jawab atas semua ahli bedah yang lain. Dan ketiga adalah tata krama seorang dokter dan dia memiliki tata krama yang baik dalam menangani pasien.

“Dr. Laura Esserman telah menyelamatkan hidup saya.”

Fokus kepada Allah

Anne telah menjalani tiga seri kemoterapi untuk mengecilkan tumornya, diikuti dengan lumpektomi, yang telah dilakukan antara natal dan tahun baru di 1997.

“Mereka tidak dapat mengangkat semua kankernya, maka mereka harus melakukan operasi kedua untuk “Membersihkan yang tersisa di Januari 1998,” katanya. “Mereka bahkan harus mengkerok kanker dari dinding dadanya; itu bagaimana dalamnya kanker tersebut. Tetapi dia telah melakukan semuanya sebagai seorang ahli bedah untuk menyelamatkan payudara saya. Dia menyadari betapa pentingnya itu bagi wanita.  Saya tidak pernah perlu melakukan operasi plastik untuk payudara saya.”

Tetapi ada satu masalah: Setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit setelah operasinya yang kedua, Anne dan suaminya sedang makan malam di dekat rumah sakit. Kemudian dia menemukan di bekas jahitannya keluar darah. Dia menelpon Dr Laura Esserman, yang sedang melakukan operasi pada saat itu dan berbicara dengan Anne melalui telpon yang dipegang ditelinganya oleh asistannya. Ahli bedah itu menyuruh pasiennya kembali ke UGD dan menunggu dia di sana.

“Mereka melakukan operasi darurat dan tidak dapat membius saya karena saya baru saja makan, maka saya sangat sadar sepanjang operasi,” ingat Anne. “Dia sedang melakukan prosedur, dan dia berkata, ketika dia melihat air mata saya mengalir terus. ‘Bagaimana kau dapat melakukan ini? Engkau pasti sangat kesakitan.’  Sejak saya masih remaja saya sudah menulis kepada Bunda Teresa, dan dia (atau biarawati yang lain) selalu menjawab. Saya berkata kepada dokter, ‘Kata Bunda Teresa, “Tidak pernah engkau sedekat ini dengan Tuhan kecuali engkau dalam keadaan yang sangat menyakitkan.” Saya berkata kepadanya, saya sangat fokus kepada Tuhan. Itulah bagaimana saya dapat mengatasi rasa sakit itu.”

“Saya juga memberitahunya bahwa nenek saya selalu mengajarkan kepada kami untuk mempersembahkan penderitaan di dunia ini agar orang lain dapat diselamatkan. Ketika dia mendengar itu, dia mulai bernyanyi kepada saya. Dia bernyanyi dua lagu, satu dalam bahasa Inggris dan satu lagi dalam bahasa Spanyol. Dia sangat berbelas kasihan dan penuh perhatian. Saya berkata, ‘Laura, engkau bukan saja seorang dokter top di UCSF, tetapi engkau belajar di Harvard dan Stanford, engkau menikah dengan seorang pengacara dan memiliki dua anak yang menyenangkan, dan engkau menyanyi juga? Dia tertawa.”

Dr Laura Esserman, direktur di UCSF Carol Franc Buck Breast Care Center, adalah seorang ahli bedah kanker payudara yang terkenal secara nasional, seorang pelopor metode perawatan yang lebih efiktif untuk pasien.

“Saya sangat senang dia memiliki semua pengalaman ini,” kata Dr Laura di email baru baru ini. “Saya menghargai pentingnya kepercayaan seseorang dalam membantu penyembuhan pasien.”

Ketika ditanya apakah dia percaya akan mukjizat, Dr Laura Esserman menjawab, “Saya percaya bahwa mukjizat terjadi di saat semua datang bersama-sama untuk melakukan semua yang dapat mereka lakukan untuk membantu pasien. Perbuatan-perbuatan baik itulah yang mewujudkan mukjizat dalam kehidupan seharian kita.”

Kanker adalah ‘suatu berkat’

Anne telah bersih dari kanker selama 10 tahun. Di bulan Januari, dokter menemukan kanker kecil “sebesar kuku jari tangan” di MRI;  Dr Laura Esserman adalah dokter yang mengangkatnya.

“Saya baik-baik saja selama ini,” kata Anne.

Anak-anak laki-lakinya, Adam, 22 dan John, 19, dulu berada di sekolah dasar pada saat operasi pertamanya; mereka sekarang adalah siswa di California Polytechnic State University, San Luis Obispo.

“Kanker itu adalah suatu berkat untuk mengingatkan saya betapa pentingnya menjadi seorang ibu di rumah, membesarkan anak-anak saya,” Kata Anne. “Anak-anak saya dapat memasak dan membersihkan rumah, dan mereka akan datang kepada saya dan bertanya kapan saya akan mejalani kemoterapi dan apa yang dapat mereka lakukan untuk saya. Ini membuat saya percaya bahwa mereka akan baik-baik saya, dan Tuhan akan menjaga anak-anak saya.

Dia juga percaya bahwa mimpi itu diberikan juga untuk alasan yang sama.

“Saya sering bertanya-tanya kenapa saya diberikan mimpi itu. Saya pikir, Tuhan menginginkan saya berada di sini untuk mengatakan kepada orang lain bahwa mukjizat tidak hanya terjadi di alkitab. Mukjizat itu terjadi setiap hari disekitar kita. Kita hanya perlu untuk memperhatikan.”

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber: cahayapengharapan.org

Campur Tangan Ilahi, Menolong Seorang Ayah Menemukan Anaknya

Itu adalah sebuah rekaman peristiwa yang menyingkapkan tragedi gempa bumi yang membuat Italia terguncang minggu ini. Berada di antara reruntuhan, tidak yakin akan menangis atau bahagia, Antonello Colangeli memegang kepalanya dan menangis ketika dia melihat anak lelakinya diangkat dari reruntuhan.

Peristiwa ini banyak terjadi di seluruh wilayah Abruzzo, sebelah timur dari Roma.  Kesedihan yang dialami orang-orang yang mencari kerabat mereka semakin bertambah setelah kejadian tersebut.

Lima hari setelah kejadian gempa bumi sebesar 6.3 menghancurkan kota L’Aquila kampung halamannya,  Dr. Colangeli menekankan jari-jarinya ke atas dahinya sekali lagi. Kali ini adalah suatu yang tidak dapat dipercaya dan dia menyebutnya sebagai keajaiban kecil yang berantai.

Anaknya adalah Giulio, yang sekarang berumur 20 tahun, hidup. Hampir 300 orang lainnya, termasuk pamannya, bibinya dan teman-temannya, tidak dapat diselamatkan.

Koran The Times menemui Dr. Colangeli, spesialis tenggorokan di rumah sakit San Salvator, yang juga sangat rusak akibat dari gempa tersebut,  disisi ranjang anaknya. “Saya seorang dokter. Saya orang yang rasional. Tetapi saya hanya dapat berkata bahwa semua tanda-tanda itu, semua kebetulan-kebetulan itu, yang menuntun saya kepada anak saya, pasti telah datang dari Tuhan,” katanya.

Giulio, murid Universitas L’Aquila jurusan ekonomi, berbaring di ujung koridor, di ruang ICU. Dia dibiarkan terbius, dan didialisa ginjalnya. Kaki kirinya sudah sangat terluka dan dia sedang di rawat sebagai korban “crush syndrome”- trauma yang parah pada bagian atas tubuh yang dapat menyebabkan gagalnya organ-organ tubuh. Tetapi dokter-dokternya masih berharap dia akan sembuh.

“Satu hal yang dikatakannya pertama kali ketika tubuhnya diangkat keluar adalah, “Papa, aku harus belajar untuk ujianku’,” Dr. Colangeli berkata, tertawa atas reaksi anaknya. “Anak ini yang tidak pernah peduli akan perkerjaan sekolah di hidupnya, dan dia menunggu sampai diangkat dari reruntuhan dan kemudian khawatir akan ujian-ujiannya.” Dia tersenyum, dan menggelengkan kepalanya.

Dr. Colangeli, 52, menganggap dirinya sebagai seorang ilmuwan, tetapi dia menyebutkan bahwa anak lelakinya dapat hidup karena “suatu campur tangan Illahi”.

Mereka telah menghabiskan waktu akhir pekannya di villa mereka di dekat laut,  sekitar satu jam dari kota L’Aquila. Giulio tinggal di kota dan menghabiskan akhir pekannya bersama dengan teman-temannya.

Dia menelepon kita dan berkata bahwa disana ada goncangan dan dia dan sahabatnya, Lorenzo, akan tinggal di rumah teman lainnnya yang berada di jalan dekat dengan rumahnya,” Dr. Colangeli katanya.

Keluarganya kembali pada hari minggu malam. Ketika gempa bumi terjadi setelah jam 3:30am pada malam itu, mereka semua dapat berlari keluar dari apartemen yang kemudian hancur disekeliling mereka. Reaksi pertama Dr. Colangeli adalah sangat menakutkan.”Saya tidak dapat mengingat jalan dimana Giulio berkata dia akan tinggal. Dapatkah kamu membayangkan betapa menyeramkan engkau tidak tahu dimana dapat mencari anakmu? Saat itu masih gelap. Dan dingin. Dan saya tidak punya sedikit ide pun dimana anakku berada. Saya panik. Saya hanya memiliki intuisi.

Ketika dia meraba-raba melewati reruntuhan, dibawah balkoni yang hancur dan potongan besi yang bergelantungan  diatas,  dia berjalan dengan bantuan beberapa orang asing ke arah dimana dia kira anaknya tinggal. Dia tidak mengetahui dimana alamatnya, tetapi bagaimanapun bangunannya sudah tidak ada disana.  Yang ada hanyalah reruntuhan tembok-tembok dan kaca-kaca yang hancur.

“Pada saat itu banyak sekali peralatan mekanik,  yang bergerak diantara reruntuhan dengan perlahan dan pasti. Saya tidak tahu apa yang mesti saya lakukan,” katanya. “Saya melihat salah satu relawan dari pertambangan yang turut membantu mencari korban. Saya bukan orang gila tetapi saya bersumpah saya melihat ada lingkaran cahaya di atas kepala orang itu. Saya mengikut dia sampai ke ujung tepi dari reruntuhan, sambil berteriak, ‘Giulio!’, ‘Giulio!’.”

“Saya mendengar – suara yang lemah, berkata, ‘Papa, aku disini, aku tidak dapat bernapas’.”

Pada saat itu,  ketika mendengar suara anaknya dari bawah reruntuhan,  Dr Colangeli difoto. Fotonya berada di depan surat kabar diseluruh dunia, memperingati miliaran orang pada penderitaan yang diakibatkan oleh peristiwa ini.

Pertemuan antara ayah dan anak ini,  yang digotong diatas tandu,  juga difoto. “Anak saya adalah seorang yang terpenting bagi saya di dunia ini. Ketika dia lahir, dia mengalami kesulitan bernapas, dan kekuatiran itu tidak pernah hilang. Melihat dia ditarik seperti itu, adalah suatu perpaduan emosi  yang sangat luar biasa  – penderitaan, ketakutan, dan kelegaan.”

Dr. Colangeli mengaku bahwa dia bukan seorang yang mempercayai suatu takhyul, tetapi dia menyebut serangkaian peristiwa yang terjadi. “Ketika Giulio digotong keluar, saya berlari dan memanggil ambulan yang lewat. Saya bertanya kemana mereka akan pergi dan apakah mereka memiliki tempat. Mereka berkata iya.”

Pasien yang berada di dalam ambulan itu adalah salah satu pasiennya, seorang pria tua yang sedang dibawa oleh anak perempuannya yang juga seorang dokter. “Itu seperti suatu pertukaran Illahi. Saya merawat ayahnya, dan anak pasien saya ini, ia membantu anak saya.”

Dia juga telah mengetahui teman baik anaknya tidak berhasil diselamatkan. “Perasaan saya bercampur baur. Saya merasa bahwa saya beruntung telah menemukan anak saya, tetapi juga ada rasa sakit di hati saya karena Lorenzo. Saya mengenal anak itu seluruh hidupnya, saya mengajari dia olah raga ketika dia masih kecil, sekarang dia telah meninggal.”

Dia tidak yakin ketika hari raya Paskah ini datang apa para penduduk Aquilani akan merayakan untuk orang-orang yang berhasil diselamatkan, atau berduka akan penduduk yang meninggal,  tetapi arti dari Paskah tidak hilang bagi Dr. Colangeli atau seluruh penduduk yang memiliki latar belakang Katolik yang kuat. Hari Jumat Agung adalah hari berduka nasional dan hari itu akan dihabiskan untuk mengubur ratusan korban.

Paskah, katanya, biasanya adalah hari dimana seluruh jemaat akan membacakan ayat di Lukas 24:1-12 mengenai kebangkitan. “Ketika mencari Giulio diantara reruntuhan malam itu, saya terus saja memikirkan kata-kata itu. “Mengapa engkau mencari yang hidup diantara yang telah mati?”

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber: cahayapengharapan.org

Kekuatan di Saat Kita Berserah

Pada hari dimana tunangan saya meninggal dunia, hari itu mulai turun salju, seperti hari-hari biasa pada bulan November sebelum dia jatuh dari atap.  Tubuhnya, ketika saya menemukannya, sudah sedikit tertutup salju.

Salju turun hampir setiap hari selama empat bulan setelah itu. Selama itu saya hanya duduk di sofa dan melihat salju menumpuk.

Suatu pagi, saya dengan hati yang berat turun ke lantai bawah dan terkejut melihat ada yang sedang membersihkan jalanan di muka rumah saya. Saya melihat seorang wanita yang mencangkul salju di depan pintu rumah.  Saya menunduk dan merangkak melewati ruang tamu, dan kembali ke lantai atas karena saya tidak mau orang-orang yang baik hati itu melihat saya.  Saya malu. Pikiran yang muncul di benak saya adalah bagaimana saya akan dapat membayar mereka? Saya tidak memiliki kekuatan untuk menyisir rambut saya apalagi untuk membersihkan salju di halaman orang lain.

Sebelum Jon meninggal, saya bangga karena saya jarang sekali meminta pertolongan. Saya mendefiniskan diri saya sebagai seorang yang kompeten dan mandiri.  Jadi siapakah saya apabila saya bukan orang yang cekatan dan sibuk? Bagaimana saya dapat menghormati saya sendiri apabila yang saya lakukan hanyalah duduk di sofa setiap hari sambil menonton salju turun?

Belajar untuk menerima kasih dan dukungan bukanlah hal yang mudah. Teman-teman memasak untuk saya dan saya menangis karena saya bahkan tidak dapat membantu menyiapkan meja. “Saya selalunya tidak semalas ini,” hati saya seolah-olah berteriak. Akhirnya, teman saya Kathy meminta saya duduk dan ia berkata kepada saya, “Mary, memasak untuk kamu bukanlah satu beban. Saya mengasihi-mu dan saya mau melakukannya. Saya merasa senang dapat berbuat sesuatu untuk kamu.”

Berulang-ulang kali, saya mendengar  kata-kata itu dari orang-orang yang mendukung saya pada masa-masa kelam tersebut.  Seorang pria yang sangat bijak berkata kepada saya, “Kamu bukannya tidak melakukan apa-apa.  Dengan terbuka penuh atas penderitaanmu mungkin adalah pekerjaan yang tersulit yang pernah kamu lakukan.’”

Saya sekarang bukanlah seorang saya yang dulu, tetapi di dalam banyak hal saya berubah menjadi lebih baik.  Kain di dalam kehidupan saya telah terajut dengan rasa syukur dan kerendahan hati.  Saya terkejut dengan mengetahui bahwa ada suatu kebebasan yang datang dengan menghadapi rasa ketakutan yang paling dalam dan berjalan dengan utuh.  Saya percaya adanya kekuatan pada saat kita berserah.

Tuhan tidak pernah meninggalkan kita di saat-saat kita merasa paling terpuruk. Ia menghantar malaikat-malaikatnya dalam bentuk teman-teman dan orang-orang di sekitar kita untuk membantu kita  dengan cara yang praktis dan penuh kasih.

(Mary Cook sekarang tinggal di sebuah komunitas yang terdiri dari 450 di Gustavus, Alaska. Dia menjaga satu-satunya kedai kopi di kota itu dan melayani sebagai sukarelawan di rumah sakit.

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber: cahayapengharapan.org

Hapuslah Air Matamu dan Bangkitlah…

Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. 2 Samuel 12:20

Saya mau membagikan renungan saya dengan Anda pada hari ini. Ada yang dapat kita pelajari disini mengenai bagaimana Raja Daud merespon ketika keadaan berjalan tidak sesuai keinginannya. Ketika anak dari Raja Daud sakit keras, dia berpuasa dan berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan anaknya. Dia bahkan tengkurap berdoa sepanjang malam. Penatua-penatua di rumahnya berdiri disampingnya dan berusaha untuk membujuk dia tetapi dia tidak mau dan menolak untuk makan (ops, seperti kita ya). Dengan kata lain dia sudah sangat putus asa dengan keadaan anaknya. Dia berharap agar keadaan berubah sesuai dengan keinginnannya yaitu agar anaknya dapat sembuh.

Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: “Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia akan mencelakakan dirinya sendiri!” Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: “Sudah matikah anak itu?” Jawab mereka: “Sudah.” Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. Baca 2 Samuel 12:15-20.

Saya percaya bahwa pelayan-pelayan raja Daud terheran-heran melihat reaksinya. Ketika anaknya sakit, raja Daud berpuasa dan dia berada pada titik yang terendah di dalam hidupnya. Tetapi Daud bereaksi dengan sangat berbeda setelah anaknya meninggal. Alkitab berkata, “Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan.  (2 Samuel 12:20)

Saya melihat bahwa Raja Daud telah merespon dengan iman meskipun dia berada pada titik yang terendah di dalam hidupnya. Dia bisa saja mempertanyakan dan menyalahkan Tuhan akan kematian anaknya tetapi dia tidak bereaksi seperti itu. Dia bangkit dengan iman dari keadaannya dan dia menolak untuk berada pada kondisi itu untuk jangka waktu yang lama. Pasti, dia berduka untuk anaknya, tetapi dia juga memiliki keyakinan di hatinya bahwa Allah mengetahui yang terbaik. Saya yakin ketika dia bangkit, dia berada pada titik terendah dalam hidupnya, sedih dan putus asa tetapi dia membiarkan hal itu berlalu dan memilih untuk keluar dari situasi itu. Bukan hanya itu dia juga memastikan bahwa hal pertama yang dilakukannya adalah untuk pergi ke bait Allah dan menyembah Tuhan.

Ini adalah pelajaran yang sangat berharga dari seorang hamba Tuhan yang luar biasa! Dia berserah pada kehendak Tuhan – meskipun itu berarti kematian anaknya. Saya kagum akan betapa cepatnya raja Daud bangkit dan menata kehidupannya kembali. Perhatikan, pertama yang dilakukannya adalah pergi ke Bait Allah dan menyembah Tuhan.

Saya juga telah mengalami perjalanan yang berat beberapa tahun terakhir ini dan saya mendapatkan saya berkeluh kesah dan berduka dalam menghadapi beberapa hal. Saya tidak memiliki – keyakinan Daud dan kepercayaannya kepada Allah bahwa Allah mengetahui yang terbaik! Dia TAHU apa yang sedang terjadi di dalam kehidupan kita. Di kemudian hari, apabila saya mengalami masalah dan kesusahan, ini yang akan saya lakukan… Bangkit dan Menyembah Tuhan!

Di dalam hidup kita ada saat bagi kita untuk berduka tetapi ada saat untuk kita menghapus air mata dan bangkit kembali. Tidak ada salahnya untuk berduka. Saya tahu sakitnya kehilangan seseorang di dalam kehidupan kita.

Betapa sakitnya pada saat saya kehilangan ibu saya dan beberapa hal yang lain dan kehilangan orang-orang yang saya kasihi. Tetapi dengan kasih karunia Tuhan, saya belajar untuk maju meskipun hati saya sakit.

Saudara sekalian, apapun yang telah engkau alami dan yang sedang kau alami di dalam kehidupan saudara, jangan membiarkan diri saudara terlalu lama pada keadaaan itu.  Letakkan kepercayaan saudara pada Tuhan dan melangkahlah di dalam iman. Dia menginginkan engkau bangkit dan datang kepada-Nya. Hapuskan air mata saudara dan melangkah majulah. Usahakan untuk melihat sesuatu yang tidak kelihatan yang telah Tuhan rencanakan hanya untuk saudara! Engkau akan terkagum-kagum! Amin!

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber: cahayapengharapan.org

Recent Posts