Home Blog Page 282

Saat Teduh 7 Menit: Bagaimana Membangun Saat Teduh Setiap Harinya

 

Kalau ngomongin saat teduh, biasanya kita berpikir mesti berjam-jam atau yah minimal setengah jam. padahal kalau kita mau teliti lagi di Alkitab, enggak ada satu pun ayat yang bilang kalau kita mesti berdoa sekian jam atau baca Akitab sekian pasal dan sekian ayat per hari. Tapi bukan berarti juga kita bisa seenaknya dalam doa dan perenungan firman. Ada baiknya kita melatih diri kita secara teratur berdoa dan merenungkan firman. Nah, buat bantu kita memulainya, VISI akan kasih tips caranya saat teduh 7 menit.

Pakai ½ menit pertama buat menyiapkan hati. Bisa doa sebentar atau lakukan hal lain yang membuat hati siap untuk bertemu Tuhan.

4 menit berikutnya bisa kamu pakai buat mendengar suara Tuhan lewat pembacaan firman. Pilih salah satu ayat, baca dan renungkan. Dengarkan apa kata Tuhan dari ayat yang kamu baca.

2 ½  menit lagi dipakai buat doa. Setelah kamu mendengar apa yang Dia katakan lewat firman-Nya, sekarang giliran kamu yang berbicara kepada-Nya. buat bantu kamu berdoa biar lebih efektif, kamu bisa coba lakukan ACTS (Adoration, Confession, Thanksgiving, Supplication) atau dalam bahasa Indonesia, Pujian (awali doa kamu dengan pujian, penyembahan, pengagungan kepada Raja segala raja), baru kamu mulai mengakui dosa-dosa yang Tuhan singkapkan, sekecil apa pun itu. Berikutnya ucapan syukur. Naikkan terima kasih kamu buat banyak hal. kejadian besar, kejadian kecil. Perkara yang enak, dan tidak enak. Terakhir baru kamu meminta. Kamu bisa mendoakan orang lain, bersyafaat buat negeri ini, atau mungkin kamu ada permintaan khusus.

Kalau kamu jumlahkan semuanya pas loh 7 menit, ½ menit+4 menit+2 ½ menit. Tentu saja kamu enggak perlu pas 7 menit. Ini hanya panduan untuk memulai. Seiring berjalannya waktu, tentu saja akan baik kalau saat teduh kamu juga meningkat.

So, ayo kita mulai bangun kehidupan saat teduh kita setiap harinya. Tuhan Yesus memberkati!

Tiga gereja dilarang melaksanakan ibadah di Parungpanjang

IBADAH NATAL. Jemaat GKI Yasmin Bekasi dan HKBP Filadelfia Bogor mengikuti ibadah perayaan Natal di seberang Istana Merdeka, Jakarta, Minggu, 25 Desember. Mereka meminta Presiden Joko Widodo melindungi hak-hak warga negara untuk Foto oleh Hafidz Mubarak A./ANTARA

IBADAH NATAL. Jemaat GKI Yasmin Bekasi dan HKBP Filadelfia Bogor mengikuti ibadah perayaan Natal di seberang Istana Merdeka, Jakarta, Minggu, 25 Desember. Mereka meminta Presiden Joko Widodo melindungi hak-hak warga negara untuk Foto oleh Hafidz Mubarak A./ANTARA

JAKARTA, Indonesia – Pelarangan kegiatan ibadah kembali terjadi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tiga gereja, yakni Metodist, HKBP Parung Panjang, dan satu Gereja Katolik diminta untuk tidak melangsungkan kegiatan ibadat di Perumahan Griya Parungpanjang RT 04/05 lantaran masalah peruntukkan lokasi.

Selama ini, lokasi yang digunakan oleh ketiga gereja ini diperuntukkan bagi rumah tinggal. Warga yang keberatan dengan hal tersebut kemudian mengajukan keberatan ke pemerintah daerah, supaya kegiatan dihentikan.

Dalam kronologi yang diterima Rappler, disebutkan rapat terkait pelarangan berlangsung pada Selasa, 7 Maret. Tetapi Pendeta Abdul Saragih dari Gereja Metodist mengatakan pembicaraan sudah berlangsung sejak 3 hari sebelumnya.

“Tanggal 4 malam, pihak Muspika (Musyawarah pimpinan kecamatan) sudah mempertemukan (kami) dengan yang keberatan, mereka sebenarnya sudah menyatakan kita enggak boleh beribadah,” kata dia saat dihubungi Rappler pada Sabtu, 11 Maret.

Saat itu, ia dan dua perwakilan gereja lainnya menyatakan tidak bisa memenuhi permintaan tersebut dan tetap menyelenggarakan kegiatan ibadah sehari sesudahnya.

Pada hari Kamis, Muspika kembali memanggil perwakilan ketiga gereja tersebut dengan dalih untuk bermusyawarah. Faktanya, mereka hanya menyampaikan keputusan dari rapat tanggal 7 Maret yang intinya menyatakan tempat ibadah mereka dalam status quo hingga akhir Maret.

Peserta rapat yang dihadiri pejabat daerah, kepolisian, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bogor, Satpol PP, MUI Kecamatan Parungpanjang dan KUA Kecamatan Parungpanjang ini juga meminta supaya pihak gereja tak melangsungkan kegiatan apapun selama menunggu keputusan terkait gedung-gedung tersebut.

“Kepada pimpinan umat Katolik dan Protestan (Methodis dan HKBP) agar melakukan sosialisasi kepada umatnya masing-masing serta menjaga hubungan baik dengan lingkungan,” demikian tertulis dalam berita acara rapat.

Dalam sosialisasi tersebut, Abdi megatakan kecewa karena pihak gereja tak diajak untuk berembug. Lebih lagi, pemerintah juga tak menyediakan solusi tempat ibadah baru.

Padahal, lanjut dia, pada pertemuan bersama dengan musyawarah pimpnan daerah (Muspida) dan FKUB di Cibinong, Bogor, pada Februari lalu, telah tercapai kesepakatan supaya umat tetap diizinkan beribadah sementara, sambil menunggu pengalihan izin penggunaan bangunan.

Sulitnya memperoleh izin

Abdi mengatakan kalau gerejanya sudah berdiri sejak tahun 1998 dan menggunakan lahan yang dipermasalahkan ini sebagai lokasi beribadah. Sementara Gereja Katolik baru didirikan pada tahun 2007 dan HKBP pada 2014. Ketiga bangunan ini berdiri bersebelahan.

Saat pertama didirikan, jemaat Methodist sudah mengajukan permohonan ke Departemen Agama Kabupaten Bogor. Di situ, petugas departemen agama menyarankan supaya mereka tidak memohon untuk pembangunan gereja karena akan sulit.

“Karena prinsipinya (mereka) tidak keluarkan IMB untuk gereja. Dipersulit dan tidak usah membangunkan ‘singa tidur’,” kata Abdi. Akhirnya, sejak tahun 1998, mereka berkegiatan dengan dasar surat lapor kegiatan (SKTL). Abdi menjelaskan kalau kegiatannya adalah pembinaan iman, bukan gereja.

Menurut dia, sebenarnya warga sekitar gereja tidak ada yang berkeberatan. Ia ingat saat hendak meminta rekomendasi ketua RT untuk SKTL, dijawab dengan ‘kalau mau ibadah tidak usah tertulis-tertulis.’ Saat sosialisasi dengan warga pun, ada yang menyambut baik dan bahkan minta izin untuk membangun warung di samping tempat ibadah mereka.

Pada tahun 2005, giliran HKBP yang meminta izin membangun gereja. Setelah dua tahun menunggu, izin pun keluar. Namun, karena mereka sudah keburu membangun sebelum IMB terbit, maka bangunan dirubuhkan oleh massa dan Satpol PP. Sedangkan Gereja Katolik sulit mendapatkan persetujuan dari warga sekitar.

“Ini sulitnya, jadi warga secara lisan bilangnya tidak keberatan. Tetapi ketika dimintai tandatangan tidak mau,” kata Abdi.

Namun, terkait masalah ini, ia mengatakan mayoritas pihak berkeberatan bukan dari daerah mereka.

Abdi menduga hal ini karena pertambahan jumlah Gereja Katolik dan Kristen yang semakin banyak. “Jadi kan dulu (belum sebanyak ini), kok sekarang semakin banyak. Itu yang jadi perhatian mereka,” kata dia.

Disediakan lahan

Meski dirundung masalah ini, ketiga gereja sepakat untuk tetap menggelar kegiatan ibadah seperti biasa. “Di lokasi yang seperti biasa,” kata Abdi.

Ia berharap ke depannya pemerintah dapat lebih memfasilitasi lahan gereja yang permanen bagi umat Kristen dan Katolik. Menurut dia, banyak perumahan yang penyediaan fasumnya dikhususkan untuk agama tertentu saja.

Hingga berita ini diterbitkan, Camat Parungpanjang Edi Mulyadi belum menjawab telepon maupun pesan pendek yang dikirimkan Rappler untuk konfirmasi.

Sengketa rumah ibadah bukanlah cerita baru di tanah Bogor. Hingga saat ini, jemaat GKI Yasmin belum dapat beribadah di gereja mereka lantaran IMB yang dibatalkan oleh Pemda Bogor.

TKI Parinah yang Hilang 18 Tahun di Inggris Akhirnya Pulang

Tenaga kerja wanita Parinah berdiri di depan kantor Kedubes RI di London, Inggris, Jumat, 6 April 2018. Twitter KBRI London

Tenaga kerja wanita Parinah berdiri di depan kantor Kedubes RI di London, Inggris, Jumat, 6 April 2018. Twitter KBRI London

TEMPO.CO, Jakarta – Setelah 18 tahun hilang kontak, TKI asal Banyumas, Parinah, 49 tahun, dipastikan kembali menginjakkan kakinya di Indonesia. Gulfan Afero, pejabat Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI London kepada Tempo pada Selasa 10 April 2018, mengkonfirmasi kepulangan Parinah ke Tanah Air.

Parinah akan terbang ke Indonesia pada Selasa, 10 April 2018 waktu Inggris dari Bandara Hearhrow menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Diperkirakan dia akan tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta Jakarta pada Rabu malam, 11 April 2018.

Baca: Kemenlu Menemukan TKI Parinah di Inggris Lewat Suratnya

Parinah, TKI asal Banyumas sedang melakukan proses pendataaan di kantor KBRI London, setelah dijemput dari kantor polisi. Sumber : KBRI

Baca: Parinah, TKI di Inggris Dieksploitasi dan Ditipu Majikan

Gulfan menjelaskan kondisi kesehatan Parinah dalam keadaan baik. Parinah dibebaskan pada 5 April 2018, dari rumah majikannya. Majikan parinah menghadapi masalah hukum di Inggris. Satu keluarha yang terdiri dari 4 orang —majikan Parinah, istri majikannya dan dua orang anaknya—-ditahan. Mereka ditahan atas tuduhan perbudakan modern dengan ancaman hukuman penjara hingga seumur hidup.

“Majikan Parinah dan keluarga sudah ditahan di Kepolisian Kota Brighton, Sussex,” kata Gulfan.

Majikan Parinah adalah seorang dokter yang sebelumnya merupakan warga negara Mesir, namun kini sudah menjadi warga negara Inggris. Identitas majikan Parinah sampai Selasa, 10 April 2018, belum dipublikasi ke publik.

Parinah bekerja pada majikan yang sama saat dia bekerja di Arab Saudi sebagai asisten rumah tangga. Pada 2001 saat majikannya pindah ke Inggris, Parinah pun mengikuti majikannya pindah. Sayang, sejak tinggal di Inggris, komunikasi Parinah dengan keluarga terputus.

Parinah tidak mengalami kekerasan fisik, namun jam kerjanya tidak jelas dan sering ‘dipinjamkan’ tenaganya pada anggota keluarga yang lain. Selama 18 tahun bekerja sebagai TKI di Inggris, Parinah tidak pernah diperbolehkan pulang kampung dan tidak boleh berkomunikasi dengan keluarganya. Gajinya pun tidak dibayarkan.

Gereja Terus Dibongkar, Umat Kristen di Cina Resah

Gambar yang diambil dari video oleh China Aid, warga melihat saat Gereja Lampstand Gold dihancurkan di Linfen di provinsi Shanxi, China utara, 9 Januari 2018. Gereja yang dibangun secara independent, maka Pemerintah China akan menangkap Pastor dan menghancurkan Gereja tersebut. (China Aid via AP)

Gambar yang diambil dari video oleh China Aid, warga melihat saat Gereja Lampstand Gold dihancurkan di Linfen di provinsi Shanxi, China utara, 9 Januari 2018. Gereja yang dibangun secara independent, maka Pemerintah China akan menangkap Pastor dan menghancurkan Gereja tersebut. (China Aid via AP)

TEMPO.CO, Beijing – Umat Kristen di Cina mulai menunjukkan kekhawatirannya terhadap kebebasan beragama di negara itu setelah pihak berwenang membongkar sebuah gereja baru-baru ini.

Gereja di Cina utara dibongkar pada pekan ini, yang kedua dalam waktu kurang dari sebulan. Ini memicu kekhawatiran akan kampanye yang lebih luas melawan orang-orang Kristen saat pihak berwenang bersiap untuk menegakkan undang-undang baru tentang agama.

Polisi mengepung daerah di sekitar gereja Gereja Lampstand Gold di Linfen, Provinsi Shanxi, pada Minggu, 7 Januari 2018 sebelum pekerja konstruksi meledakkan bahan peledak, yang telah dipasang di dalam bangunan gereja. Menurut saksi dan pastor kepala, setelah ledakan awal, pekerja menghancurkan potongan yang tersisa dengan linggis dan palu.

Baca: Demi Ujian, Bocah Cina Ini Rela Rambutnya Membeku

Seorang pastor di sebuah gereja di dekatnya tiba setelah ledakan di Gereja Golden Lampstand dan menyaksikan buruh konstruksi memisahkan sisa-sisa bangunan itu. Pendeta itu meminta namanya tidak dipublikasikan karena takut balas dendam oleh pihak berwenang.

“Terdapat banyak polisi yang mengawal proses perobohan itu, sulit untuk dihitung. Mereka mencegah kerumunan jemaah yang coba mendekati lokasi itu,” kata pendeta ini, seperti yang dilansir media global pada 11 Januari 2018.

Dia mengaku sedih melihat pembongkaran ini dan merasa khawatir tentang lebih banyak gereja yang akan dibongkar. Menurutnya gereja itu dibangun pada 2008, jadi tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menghancurkannya. Gereja ini memiliki sekitar 50 ribu jamaah. Diperkirakan, ada 60 juta penganut Kristen di Cina.

Menurut pendeta kepala, Yang Rongli, Gereja Gold Lampstand dibangun satu dekade yang lalu dan menghabiskan biaya sebesar belasan juta yuan. Rongli sendiri sebelumnya menghabiskan 7 tahun di penjara dengan tuduhan mengumpulkan kerumunan untuk mengganggu ketertiban lalu lintas dan berada di bawah pengawasan polisi sejak dibebaskan pada Oktober 2016.

Sebuah gereja Katolik di provinsi tetangga Shanxi juga dilaporkan dibongkar bulan lalu, 20 tahun setelah beroperasi.

Pemerintah merevisi undang-undang yang mengatur kelompok agama tahun lalu untuk pertama kalinya sejak 2005. Ini meningkatkan kontrol atas tempat-tempat ibadah.

Cina menjamin kebebasan beragama di atas kertas, namun dalam prakteknya pihak berwenang sangat mengatur banyak aspek kehidupan religius. Gereja harus mendapat sanksi resmi dan pastor harus mematuhi sejumlah peraturan yang diberlakukan oleh pemerintah.

Kebijakan pembatasan telah menimbulkan pendirian bangunan gereja tanpa melalui jalur resmi. Pihak berwenang secara berkala menangkap pendeta atau melakukan pembongkaran bangunan yang digunakan oleh jemaat untuk ibadah.

Pihak berwenang kemudian semakin memperketat aturan sejak 2013, dimana melarang salib yang menjulang tinggi di menara gerja dan melarang pembangunan katedral-katedral besar. Pejabat melancarkan tindakan keras terhadap gereja-gereja di provinsi Zhejiang yang dipercepat pada tahun 2015, dan lebih dari 1.200 salib telah dibongkar.

Dalam sebuah laporan tahunan tentang kebebasan beragama, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan pemerintah Cina secara fisik menyiksa, menangkap, menahan, menyiksa, menjatuhkan hukuman penjara, atau melecehkan penganut kelompok agama terdaftar dan tidak terdaftar.

Ini Pandangan Pendeta HKBP Seputar Nikah Beda Agama

Ini Pandangan Pendeta HKBP Seputar Nikah Beda Agama

Foto: http://darigerejakegereja.blogspot.com

Judicial Review Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan untuk melegalkan pernikahan beda agama menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Ada yang setuju, ada yang menolak. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah meminta agar Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan ini. Lalu, bagaimana pandangan pemuka agama lain?

Pendeta Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Bandung Timur, Jerry TP Aruan secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya dengan permohonan uji materi yang diajukan oleh sejumlah alumnus dan mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).

“Dari awal saya tidak setuju dengan pernikahan beda agama, maka saya tidak setuju dengan judicial review tersebut,” ujar Jerry kepada hukumonline melalui sambunga telepon, Rabu pekan lalu (10/9).

Jerry menjelaskan sejak awal keberadaan gereja di Indonesia bukan bermaksud untuk berdiri sendiri dan berada di luar tuntutan pemerintah. Namun, lanjutnya, bila merujuk kepada Injil Roma Pasal 13 disebutkan bahwa gereja dan pemerintah harus bekerja sama.

“Ada otonomi tersendiri dalam sebuah gereja, begitu juga ada otonomi sendiri dalam negara yang tidak dicampuri oleh gereja, yang berarti walaupun nantinya negara menyetujui pernikahan beda agama, gereja bisa mempunyai sikap untuk menolak,” tegasnya.

“Pemerintah dalam hal ini tidak bisa mencampuri otonomi yang ada di dalam agama tertentu,” tambahnya.

Menurut Jerry, pernikahan beda agama bagi pemeluk agama Kristen sudah jelas hukumnya, yakni tidak diizinkan. “Pada dasarnya saya berpendapat bahwa secara iman Kristen, pernikahan beda agama itu adalah sesuatu yang tidak diizinkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jerry menjelaskan bahwa ada dua syarat pernikahan di Gereja HKBP. Pertama, sudah dibaptis (sesuatu yang sudah pasti). Kedua, sudah naik sidi atau melewati proses katekisasi. “Orang yang sudah naik sidi dianggap sudah dewasa secara Kristen. Artinya, sudah mengenal ajaran kekristenan secara matang,” jelasnya.

Begitu juga sebaliknya. Seorang akan tetap dianggap anak-anak meski sudah berusia tua bila belum melewati naik sidi ini. Ia menjelaskan proses naik sidi atau katekisasi ini meliputi pendalaman firman Tuhan dan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial.

Jerry menuturkan bahwa dua syarat ini bersifat absolut. “Karena untuk menikah tersebut butuh kedewasaan iman. Tidak hanya bagi yang mau menikah, bagi mereka yang belum mau menikah pun butuh katekisasi agar mereka semakin dewasa dalam iman kekristenannya,” tuturnya.

Dua syarat itu berlaku untuk pengantin pria dan perempuan. “Menikah tanpa kedua syarat tersebut bisa saja, tetapi pernikahan tersebut tidak diberkati oleh pendeta. Dalam budaya Batak, ada yang namanya Pasu-Pasu Raja,” katanya.

Oleh karena itu, Jerry menekankan bahwa tidak mungkin terjadi pernikahan beda agama, terutama di Gereja HKBP. Ia menuturkan bahwa hal ini bukan semata-mata mengenai pendeta yang memberkati, tetapi juga penerimaan umat terhadap pernikahan itu. Secara keimanan, lanjutnya, memang benada bahwa agama menyembah Tuhan yang satu, tetapi pemahaman tentang Ketuhanan itu berbeda-beda.

“Maka mustahil, dua orang yang berbeda agama diberkati di sebuah gereja,” ujarnya.

Lalu, bagaimana dengan pernikahan antara pemeluk Kristen dan pemeluk Katolik?

Jerry menegaskan bahwa Kristen dan Katolik juga dianggap berbeda agama. “Seorang Katolik yang mau menikah dengan yang beragama Kristen juga harus dibina dulu tentang agama Kristen Protestan. Ini karena ajarannya terkadang ada yang berbeda. Ada doktrin-doktrin yang berbeda,” jelasnya.

Namun, lanjut Jerry, untuk orang yang beragama Katolik yang belajar agama Kristen Protestan, dia tidak perlu membuat pernyataan bermaterai sebagaimana halnya bagi pemeluk agama lain. “Ini karena adanya persamaan ajaran. Perbedaan antara Kristen Protestan dengan Katolik tidak sebesar perbedaan dengan agama lain,” tambahnya.

Jerry pun tidak lupa untuk berpesan kepada para pemuda-pemudi Kristen tentang pernikahan beda agama ini. Ia menuturkan pada masa berpacaran dengan seseorang yang memiliki iman berbeda, cinta itu hanya manis di awalnya saja. Pandangan pertama itu selalu indah, tetapi ketika menjalani kehidupan, mereka akan menemukan banyak masalah-masalah yang pelik.

“Sulit untuk menghadapi masalah-masalah yang pelik jika iman mereka tidak satu,” pungkasnya.

Orang Kristen Mesir yang Selamat dari Teror Beri Kesaksian

Foto yang dirilis oleh pemerintah menunjukkan korban yang tewas akibat serangan bersenjata terhadap bus yang membawa umat Kristen Mesir di Minya, Mesir, 26 Mei 2017.

Wawancara video dengan orang-orang yang selamat dari serangan maut oleh militan Islamis terhadap bus yang membawa kaum Kristen Mesir ke sebuah biara gurun pasir terpencil memberi gambaran teror yang sangat mengerikan, dan anak-anak bersembunyi di bawah kursi mereka untuk menghindari tembakan senjata api.

Video yang muncul di jaringan media sosial hari Minggu, dua hari setelah 29 orang tewas dalam serangan di jalan gurun pasir di selatan ibukota itu. Kelompok ISIS telah mengaku bertanggungjawab atas serangan hari Jumat. Ini adalah serangan ke-4 terhadap kaum Kristen di Mesir sejak Desember yang diklaim ISIS. Rentetan serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 100 dan mencederai banyak lainnya.

Seorang yang selamat, anak laki-laki yang kecil yang tampaknya berusia kira-kira 6 tahun, mengatakan ibunya mendorongnya ke bawah kursi ibunya dan menutupinya dengan karung. Seorang perempuan muda yang berbicara dari tempat tidur rumah sakit mengatakan penyerang pemerintahkan wanita menyerahkan uang dan perhiasan mereka sebelum melepaskan tembakan yang menewaskan para priya terlebih dahulu dan kemudian sebagian wanita.

Wanita itu mengatakan orang-orang bersenjata tersebut bertopeng dan mengenakan seragam militer.

Uskup Makarios, pastor tertinggi Kristen Orthodox Koptik di Minya, provinsi dimana serangan itu terjadi, mengatakan para penyerang mengatakan kepada pria Kristen yang mereka turunkan dari bus nyawa mereka akan diselamatkan kalau mereka beralih agama ke Islam.

“Mereka memilih kematian,” kata Makarios, pengecam keras cara pemerintah menangani kekerasan anti-Kristen di Minya, di mana kaum Kristen lebih dari 35 persen dari penduduk provinsi itu, yang paling tinggi di Mesir.

“Kami bangga meninggal ketika mempertahankan agama kami,” katanya dalam wawancara televisi yang diudarakan Sabtu malam. [gp]

Apakah Ada Keselamatan di Luar Yesus Kristus?

 

Oleh : Pdt. DR. Budyanto

Biasanya setiap orang Kristen berpendapat bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus, bahkan lebih sempit lagi tidak ada keselamatan di luar gereja. Adapun dasar yang dipakai adalah Yohanes 14:6: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.

[block:views=similarterms-block_1]

William Barclay menafsirkan ayat ini sebagai berikut: Memang banyak orang yang mengajar tentang jalan yang harus ditempuh, tetapi hanya Yesuslah jalan itu dan di luar Dia manusia akan tersesat. Banyak orang yang berbicara tentang kebenaran, tetapi hanya Yesuslah yang dapat mengatakan Akulah kebenaran itu. Orang lain mengajarkan tentang jalan kehidupan, tetapi hanya dalam Yesus orang menemukan kehidupan itu. Karena itu hanya Dia saja yang dapat membawa manusia kepada Tuhan.

Lain halnya dengan Samartha yang mengatakan bahwa dalam agama Kristen Yesus Kristus memang juru selamat, tetapi orang Kristen tidak dapat mengklaim bahwa juru selamat hanya Yesus Kristus. Demikian pula Yesus adalah jalan, tetapi jalan itu bukan hanya Yesus, sebab seperti dikatakan Kenneth Cracknell bahwa di luar agama Kristen pun dikenal banyak keselamatan.

Dalam agama Yahudi dikenal istilah Halakhah, yang secara harafiah artinya berjalan. Kata ini merupakan istilah teknis dalam pengajaran agama Yahudi yang berhubungan dengan semua materi hukum dan tatanan hidup sehari-hari. Istilah ini diambil dari Keluaran 18:20: Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan yang memberitahukan kepada mereka jalan yang harus mereka jalani dan pekerjaan yang harus mereka lakukan.

Dalam agama Islam konsep jalan itu terdapat dalam Sura 1:5-7: …. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Pimpinlah kami ke jalan yang lurus (yaitu), jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka…

Dalam agama Hindu juga dikenal adanya jalan menuju moksha, menuju kelepasan dari kelahiran kembali, menuju keselamatan, yaitu Jnana marga atau jalan pengetahuan, Karma marga atau jalan perbuatan baik, serta bhakti marga yaitu jalan kesetiaan atau ibadah. Sedangkan dalam agama Budha dikenal Dhama pada, jalan kebenaran menuju nirwana.

Lalu bagaimana hubungan jalan-jalan ini dengan Kristus yang adalah jalan?

Ada berbagai penafsiran, di antaranya: ada banyak jalan kecil-kecil (path), tetapi hanya satu jalan besar (way) yaitu jalan Kristus. Atau ada yang mengatakan ada banyak jalan, termasuk jalan Kristus, tetapi hanya ada satu tujuan yaitu Allah.

Kalau kita memilih yang pertama, memang tidak cocok dengan semangat pluralisme agama-agama, tetapi lebih sesuai dengan teks Yohanes 14:6 Ada banyak jalan tetapi hanya ada satu jalan yang menuju Bapa, yaitu jalan Kristus.

Kalau memilih alternatif kedua, hal itu sesuai dengan semangat pluralisme tetapi persoalan tentang Tidak seorang sampai kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku tidak terpecahkan. Dan dengan memilih alternatif kedua, berarti menempatkan Yesus sebagai jalan (cara) untuk mencapai suatu tujuan. Padahal menurut banyak penafsir Yesus itu bukan jalan (cara) untuk mencapai tujuan, tetapi Ia sendiri jalan sekaligus tujuan. Dalam teks dikatakan Aku adalah… (tiga kata berikutnya mempunyai kedudukan yang sejajar) jalan, kebenaran dan hidup. Bukan Aku jalan menuju kebenaran dan menuju hidup, juga bukan Aku jalan kebenaran dan jalan hidup.

Penulis setuju bahwa di luar agama Kristen ada jalan (minhaj, marga, dhama pada), ada jalan kebenaran, ada keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa jalan Yesus itu jalan yang luar biasa, sedangkan jalan yang lain jalan biasa. Lalu persoalannya adalah bagaimana kalimat Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku harus ditafsirkan?

Konteks ayat ini adalah: Ketika itu Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya. Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi murid-muridnya, kemudian Ia akan kembali menjemput mereka, supaya di mana Yesus berada murid-murid juga berada di sana (Yoh.14:3). Kemudian Thomas berkata: Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?

Dengan perkataan itu Thomas ingin tahu jalannya supaya bisa sampai ke tempat itu dengan cara dan kekuatannya sendiri.

Kemudian Tuhan Yesus menjawab: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku. Yang dimaksud Tuhan Yesus dengan perkataan itu adalah: Thomas tidak dapat datang ke tempat itu dengan usaha dan kekuatannya sendiri. Kalau toh ia bisa datang ke tempat itu karena Tuhan Yesus yang membawa dia (Bdk. Ay. 3 yang berkata: Aku akan datang kembali membawa kamu). Dengan kata lain kalau Thomas bisa datang ke tempat itu, semua itu semata-mata hanya karena anugerah Allah yang nyata dalam kehadiran Yesus Kristus.

Jadi persoalannya bukan di luar Kristus tidak ada jalan, tetapi bagi umat Kristen kita bisa sampai ke tempat di mana Kristus berada, itu semata-mata karena anugerah Allah. Inilah yang membedakan jalan yang ditempuh umat Kristen dan jalan-jalan lainnya. Di sana bukan tidak ada jalan, di sana bisa juga ada jalan, jalan di sana bukan kurang baik, sedang di sini lebih baik, tetapi memang jalan itu berbeda. Dengan demikian pemutlakan orang Kristen terhadap Yesusnya, tidak harus membuat orang Kristen menjadi eksklusif, atau menyamakan saja semua agama.

Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Yesus Kristuslah yang membawa kita kepada keselamatan, tetapi kita juga tidak harus mengatakan di sana, dalam agama lain, sama sekali hanya ada kegelapan dan kesesatan. Kalau kita sendiri tidak rela orang menganggap dalam kekristenan hanya ada kegelapan dan kesesatan, mengapa hal yang sama kita tujukan kepada orang lain.

Apakah pandangan itu tidak memperlemah semangat Pekabaran Injil? Tidak, hanya harus ada orientasi baru tentang Pekabaran Injil.

Pekabaran Injil harus dipahami seperti pemahaman Yesus Kristus sendiri: Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik (mengabarkan Injil) kepada orang-orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk.4:18,19).

Memberitakan Injil tidak lagi dipahami sebagai kristenisasi, tetapi kristusisasi. Menambah jumlah orang-orang yang diselamatkan dan menjadi anggota gereja bukan tujuan pekabaran Injil, tetapi sebagai akibat atau buah pekabaran Injil: mereka disukai semua orang dan setiap hari Tuhan menambahkan dengan orang-orang yang diselamatkan (Kis. 2:46). Buah pekabaran Injil ini mungkin tidak segera kita nikmati dalam kehadiran mereka di gereja, tetapi mungkin pada waktu dan di tempat lain.

Apakah pemahaman Pekabaran Injil ini tidak sama saja dengan pemahaman sebelumnya? Tidak, pada pola pemahaman yang pertama mengesampingkan sikap toleransi yang karenanya dapat menimbulkan kecurigaan bahkan konflik sosial. Dan sering kekristenan mereka yang bertobat lebih bersifat emosional. Sedangkan pola pekabaran Injil kedua, sangat bersikap tenggang rasa dan toleran dan bahkan mungkin pekabaran Injil bisa dilakukan dengan kerjasama antar agama. Dan kalau akhirnya ada yang menjadi anggota gereja, kekristenan mereka tidak bersifat emosional, tetapi dengan kesadaran penuh.

Kisah Pria Kristen Berdoa di Tengah Umat Muslim di Al Aqsa

 

Usai Tragedi Penembakan Polisi, Masjid Al-Aqsa Kembali Dibuka

Tidak hanya di Masjid AL-Aqsa, petugas polisi Israel juga melakukan penjagaan ketat di luar gerbang Damaskus di Kota Tua Yerusalem, Sabtu (15/7). Umat muslim Palestina diperbolehkan melakukan ibadah asal tetap dalam penjagaan petugas. (AP/Mahmoud Illean)

Liputan6.com, Yerusalem – Situasi dan kondisi terkait kompleks Masjid Al-Aqsa masih menegang, kala memasuki minggu ke-2 sejak terjadinya rangkaian konflik serta pertikaian antara otoritas Israel dengan pemeluk Islam di Palestina.

Tensi pun tetap memanas, dan muslim Palestina terus berkomitmen memperjuangkan hak mereka guna meraih kebebasan penuh untuk beribadah di tempat suci ke-3 umat Islam tersebut.

Namun, muslim Palestina tidak berjuang sendiri. Mereka turut didukung oleh individu maupun kelompok muslim dan lintas agama, tak hanya di Timur Tengah, namun juga dari berbagai penjuru dunia. Demikian seperti yang dilansir dari berbagai sumber, Rabu (26/7/2017).

Nidal Abdoud dari Palestina misalnya. Pemuda pemeluk agama Kristen itu kedapatan berdiri bersandingan bersama saudara sebangsanya yang beragama Islam, saat aksi doa bersama di depan Masjid Al Aqsa, sebagai bentuk protes dan penolakan atas pemasangan detektor logam oleh Israel di area tersebut.

Saat itu, Abdoud mengenakan rosario yang dilengkapi sambil membaca kitab sucinya. Di samping Abdoud, berdiri seorang pemuda muslim, tengah melakukan gerakan salat, bersedekap tangan di depan dada.

“Motivasi saya untuk berdiri di sana merupakan bentuk soliditas terhadap saudara muslim, terkait konflik Palestina – Israel dan perseteruan terkait tempat beribadah,” jelas Abdoud.

“Saya juga akan melakukan penolakan yang sama, jika detektor logam serupa di pasang di Gereja Sepulchre,” tambahnya. Gereja itu merupakan ‘Al Aqsa versi umat Kristen’ di Kota Lama Yerusalem, yang dianggap oleh para Nasrani sebagai lokasi penyaliban Yesus Kristus.

Nidal Aboud, seorang nasrani yang ikut berdoa bersama rekan muslimnya, saat aksi protes di Masjid Al Aqsa (Twitter)

Sepulchere pun, melalui sebuah pernyataan resmi yang ditulis oleh Kepala Gereja, mengecam aksi Israel melakukan pembatasan akses bagi para jamaah yang ingin beribadah di Masjid Al Aqsa. Gereja menuntut agar akses beribadah secara bebas di Masjid Al Aqsa bagi para saudara muslim.

Sedangkan Delegasi World Council of Churches di Palestina turut bergabung bersama muslim Palestina saat menggelar aksi protes di depan Masjid Al Aqsa, sebagai bentuk solidaritas, seperti yang dikabarkan oleh Alsharq Alawsat.

Sementara itu dilaporkan oleh media lokal, sejumlah gereja di Bethlehem, Tepi Barat, akan melakukan aksi penutupan ibadah Minggu, dan menganjurkan kepada para jamaahnya untuk ikut mendukung para saudara Muslim melakukan aksi protes terkait Al Aqsa.

Kepala Gereja Ortodoks Yerusalem, Atallah Hanna, juga mengecam protes terhadap Israel dan menyatakan dukungannya terhadap Muslim.

“Sudah tugas kita sebagai Muslim dan Nasrani di Palestina untuk terus bersatu melawan kerakusan Israel. Seluruh warga Palestina bersatu melawan okupasi dan rasisme Israel,” jelas Hanna kepada media Turki, Anadolu Agency.

Di Inggris, kelompok aktivis Friends of Al Aqsa, menyerukan semua orang untuk mengorganisir doa bersama demi keamanan tempat suci ke-3 umat Islam tersebut.

Doa bersama digelar di Bolton, Bradford, Coventry, Edinburgh, Glasgow, Huddersfield, Leicester, Luton, Manchester, Newcastle, dan Sheffield.

Sedangkan di Vatikan, pada Ibadah Massal Minggu di Vatikan, Paus Fransiskus menekankan pentingnya dialog dan moderasi untuk merestorasi perdamaian.

Di Jakarta, Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengimbau agar umat Islam di Tanah Air membaca qunut nazilah dan berdoa demi kedamaian, keselamatan, dan keamanan bangsa Palestina.

Menko Luhut Minta Umat Kristiani Berkontribusi Bangun Bangsa

Menko Luhut Minta Umat Kristiani Berkontribusi Bangun Bangsa

Jakarta – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Republik Indonesia Jend. TNI (Purn.) Luhut B. Pandjaitan mengatakan, umat Kristiani harus berkontribusi dalam membangun bangsa ini. Kekristenan juga harus bicara nasionalisme dan terus membangun bangsa ini

“Jangan hanya membicarakan Yerusalem dan Halleluya di gereja. Kontribusi kita sebagai orang Kristen apa?” ujar Luhut dalam Seminar Politik “Kekristenan dan Nasionalisme” di Katedral Mesias – Reformed Millenium Center Indonesia Building (RMCI), Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (19/8).

Seminar itu digelar Reformed Center for Religion and Society (RCRS). Turut hadir sebagai narasumber seminar itu antara lain Budayawan dan Rohaniwan Katolik Romo Prof. Dr. Franz Magnis Suseno dan Budayawan dan Rohaniwan Kristen Pdt. Dr. (H.C.) Stephen Tong.

Luhut mengatakan, orang Kristen jangan pernah merasa menjadi orang paling benar. Orang Kristen harus bisa menjadi contoh di mana saja.

“Kita semua sama. Doa itu diam, semua ada waktunya. Jangan pernah takut. Bisa menjadi apa saja di negeri ini,” katanya.

Luhut mengingatkan, orang Kristen jangan pernah takut dalam menyampaikan aspirasinya. Menurutnya, Presiden Jokowi merupakan orang berani, jujur dan mau mendengar rakyatnya.

“Pemuda akan menjadi pemimpin masa depan bangsa ini. Saya berharap gereja menjadi tempat membimbing anak muda bangsa ini untuk menjadi pemimpin masa depan dan membangun negeri ini,” katanya.

Sementara Romo Suseno mengatakan, pluralisme menjadikan kita bangga sebagai bangsa Indonesia. Romo mengatakan, bangsa ini harus menunjukkan mindset, mensyukuri bagaimana Indonesia melalui krisis 1998, dibanding dengan sejumlah negara-negara lainnya.

“Indonesia semenjak Pak Harto turun tidak menjadi kacau, tidak dikuasai agama, kita menjalin kebebasan. Reformasi pada dasarnya sukses kecuali dalam memberantas korupsi,” katanya.

Romo mengatakan, agama menjadi rahmat bagi semua dan kehadiran umat Kristen harus menyembuhkan, seperti Tuhan Yesus. Menurutnya, keagamaan tidak mengancam dan beragama jangan menjadi menakutkan.

“Di dalam lingkungan segenap umat merasa aman hidup menurut keyakinannya. Memberi ruang sesuai apa yang kita yakini benar,” ucapnya.

Stephen Tong mengatakan, kontribusi umat Kristen dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan nasionalisme Indonesia tak perlu diragukan lagi. Ia juga mendorong umat Kristen terlibat dalam pembangunan nasionalisme Indonesia masa kini.

Ia juga mendorong umat Kristen bersama-sama dengan saudara-saudara sebangsa lainnya memberikan kontribusinya bagi pembangunan nasionalisme Indonesia. Menurutnya, kondisi nasionalisme Indonesia yang kian tergerus saat ini sudah sepatutnya juga menjadi tanggung jawab umat Kristen.

Donald Trump diminta tidak mendeportasi warga Kristen Indonesia di AS

Protes mendukung kelompok imigran Kristen Indonesia

Gubernur New Hampshire, Chris Sununu pada Senin (23/10) meminta Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan upaya mendeportasi 69 orang Kristen Indonesia yang melarikan diri saat kerusuhan 1998 lalu dan hidup secara ilegal di negara bagian tersebut.

“Saya dengan hormat meminta agar administrasi Anda mempertimbangkan kembali keputusan untuk mendeportasi orang-orang ini, dan saya mendesak sebuah resolusi yang memungkinkan mereka tinggal di Amerika Serikat,” tulis Sununu dalam sebuah surat kepada Trump, Jumat (20/10), yang diumumkan kantornya, Senin.

“Sementara saya yakin bahwa kita harus mengambil langkah-langkah untuk mengekang imigrasi ilegal, juga penting untuk kita membuat proses imigrasi legal menjadi lebih efisien dan praktis.”

Gedung Putih sejauh ini tidak menanggapi permintaan untuk menanggapi komentar.

Para imigran asal Indonesia itu tinggal di negara bagian itu di bawah kesepakatan tahun 2010 dengan Imigrasi dan Bea Cukai (Immigration and Customs Enforcement, ICE).

Kesepakatan itu memungkinkan mereka tinggal selama mereka menyerahkan paspor mereka dan melapor ke petugas imigrasi secara reguler.

Hal itu berubah sejak bulan Agustus lalu saat mereka datang ke pertemuan yang dijadwalkan dengan pejabat ICE di kantor Manchester, New Hampshire, dan diminta untuk membeli tiket pesawat satu arah ke Indonesia, yang mereka tinggalkan setelah kerusuhan 1998.

Ke-69 orang itu semuanya etnis Cina, beberapa diantara mereka mengatakan kepada Kantor berita Reuters bahwa mereka khawatir akan menghadapi diskriminasi atau kekerasan jika mereka kembali ke Indonesia- negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Pengacara Imigrasi telah mengajukan tuntutan hukum di Boston atas nama 47 orang yang meminta hakim pengadilan federal untuk melakukan intervensi.

Kepala Hakim Distrik A.S. Patti Saris telah memerintahkan untuk tinggal sementara, namun mengindikasikan bahwa dia memiliki yurisdiksi yang kecil tentang imigrasi, yang ditangani oleh Kantor Eksekutif untuk tinjauan Imigrasi (Executive Office for Immigration review).

anak keturunan WNI

Saris saat ini menimbang apakah dia dapat memerintahkan penundaan yang lebih lama untuk memberi orang-orang yang terdampak, sebagian besar sudah memiliki anak-anak kelahiran AS, waktu untuk memperbarui usaha mereka untuk mendapatkan status hukum.

Warga Indonesia yang beragama Kristen itu memasuki Amerika Serikat secara legal dengan visa turis setelah kerusuhan 1998, yang meletus di akhir krisis keuangan Asia dan memicu reformasi demokrasi di Indonesia.

Mereka memperpanjang visa mereka dan gagal melamar suaka tepat pada waktunya, namun diizinkan untuk tinggal secara terbuka sesuai kesepakatan dengan ICE, melakukan negosiasi dengan bantuan Senator AS Jeanne Shaheen, dari Partai Demokrat.

Recent Posts