Home Blog Page 163

Renungkanlah 3 Ayat Ini Kalau Pengen Jadi Orangtua yang Lebih Baik

Sumber: Psychology Hacker

Jadi orangtua bukan peran yang mudah. Akan ada banyak peperangan yang terjadi sepanjang perjalanannya. Bahkan orangtua juga harus berkorban demi menyaksikan anak-anaknya tumbuh dengan baik dan kelak sukses dalam hidupnya.

Ada masa ketika orangtua berhadapan dengan jalan buntu; penuh kemarahan, ketidaksabaran, kehilangan waktu dan juga kebijaksanaan. Hal ini seringkali akan berimbas pad acara orangtua mendidik anak.

Nah supaya kamu bisa jadi orangtua yang lebih baik, cobalah merenungkan tiga ayat ini dan berdoalah supaya Tuhan memampukanmu untuk bisa melakukannya.

Amsal 4: 23

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Berpikirlah begitu, “Kalau aku membantu anak-anakku menjaga hati mereka, aku tak perlu kuatir soal hal kecil yang mereka lakukan”. Ingatlah kalau bagaimana kondisi hatimu begitu juga tindakan yang akan keluar. Karena keadaan hati adalah akar dari tindakan lahirah. Jadi sudah seharusnya orangtua menjaga hati mereka supaya hal yang sama akan dirasakan oleh anak-anaknya.

Ibrani 3: 13

“Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.”

Salah satu kebiasaan yang harus dipupuk oleh orangtua bersama anak-anaknya adalah meluangkan waktu untuk menghabiskan waktu bersama. Di waktu-waktu kebersamaan inilah yang bisa dipakai jadi momen untuk berbagi pikiran dan mengajari anak soal hal-hal yang harus dia perhatikan dalam hidupnya.

Amsal 29: 18

“Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.”

Anak-anak kadang belum sepenuhnya bisa memahami soal arti kehidupan yang sebenarnya. Karena itulah mereka cenderung bertindak semaunya. Sebagai orangtua, adalah tugas utama untuk mengingatkan mereka soal fakta yang sebenarnya soal hidup. Terutama soal siapa mereka dan kenapa mereka harus hidup di dalam Tuhan yang menciptakan mereka.

Saat orangtua sudah memperkenalkan Tuhan di dalam hidup setiap anak-anaknya sejak dini, yakinlah bahwa mereka pun akan tumbuh dengan cara hidup yang baik.

Inilah tugas mulai dari orangtua. Tak mudah, tapi dengan firman Tuhan semua hal yang sulit ini pasti bisa diatasi.

Sumber : Jawaban.com

‘SCHOOL’, 6 Kata Ajaib yang Bikin Orangtua Berdoa Lebih Mudah Untuk Anak-anaknya

Sumber: Today’s Christian Woman

Doa adalah senjata orang percaya untuk selalu berjaga-jaga atas segala aspek kehidupan. Doa juga penting kita pakai untuk memastikan semua orang-orang terkasih kita selalu ada dalam lindungan dan penjagaan Tuhan. Hal ini juga penting untuk selalu diterapkan setiap orangtua bagi anggota keluarganya, termasuk anak-anak.

Kita tahu bahwa tekanan yang dihadapi anak-anak jaman sekarang pasti jauh lebih besar, termasuk kehadiran teknologi dan juga pola pergaulan yang tak lagi ada batasnya. Tapi kita percaya dengan menyerahkan anak-anak kita kepada Tuhan, maka mereka akan mampu melewati setiap rintangan dengan cara yang benar.

Jadi supaya orangtua bisa lebih konsisten berdoa untuk anak-anaknya, akan lebih baik memakai SCHOOL yaitu 6 kata yang sudah familiar buat kita. Bukan cuma mudah diingat tapi doanya pasti akan jauh lebih efektif.

Apa saja yang dimaksud dengan SCHOOL? Yuk baca penjelasannya di bawah ini.

S = Self Control (penguasaan diri)

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5: 8)

Pakailah ayat ini untuk berdoa supaya anak diberikan kemampuan untuk selalu waspada dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Si iblis bahkan bisa memakai teman-temannya untuk mempengaruhi anak melakukan hal-hal yang tak benar.

C = Courageous (keberanian)

“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.” (Yosua 1: 9)

Perkatakanlah ayat ini dalam doa-doamu. Karena Tuhan sendiri sudah berjanji untuk selalu menyertai anak-anakNya dimanapun dan kemanapun mereka pergi.

H = Help from Holy Spirit (Mendapat pertolongan dari Roh Kudus)

“Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup. Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya” (Yohanes 7: 38-39b)

Tuhan berfirman kalau setiap orang yang percaya akan beroleh Roh. Jadi berdoalah supaya anka-anakmu terlebih dulu percaya dan beriman kepada Yesus karena dengan itulah Roh Tuhan akan selalu menyertai hidup mereka.

0 = Opportunities to do good (Peluang untuk melakukan hal yang baik)

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (Galatia 6: 10)

Berdoalah supaya anak-anakmu berolah hati yang penuh kasih. Supaya dimanapun mereka berada, mereka bisa jadi berkat bagi banyak orang.

O = Overcome Evil (Mampu menghalau si jahat)

“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12: 21)

Mintalah supaya Tuhan memberi anak-anakmu kekuatan dan kemampuan untuk bisa mengalahkan tipu muslihat si jahat, entah itu godaan, bully atau kekerasan. Ajarkanlah juga anakmu untuk selalu berani berdiri menantang hal-hal yang tidak benar berdasarkan firman Tuhan, termasuk kemungkinan saat mereka dimanfaatkan oleh orang tak dikenal secara fisik.

L = Love God and Others (Mengasihi Tuhan dan sesama)

“Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22: 37-39)

Berdoalah supaya anak-anakmu mengenal Tuhan secara pribadi dan mengasihiNya dengan segenap hati mereka. Karena dengan percaya kepada Tuhanlah anak-anak akan mampu menghadapi segala masalah yang datang dalam hidupnya.

Nah, mudahkan berdoa dengan memakai cara doa yang satu ini? Mulailah membiasakan diri berdoa dengan memakai 6 kata ini dan rasakan perbedaannya.

Sumber : Jawaban.com

Ingin Banyak Anak itu Alkitabiah, Tetapi 3 Hal Ini Perlu Dipertimbangkan Agar Tak Menyesal

Sumber: cincinnatifamilymagazine.com

Anak adalah anugerah dari Tuhan yang patut disyukuri. Ketika berkeluarga, memiliki keturunan adalah hal wajar yang menjadi keinginan. Menariknya, iklim di Indonesia adalah masyarakat yang mendukung banyak anak. Meski gerakan Keluarga Berencana “2 anak cukup” dari sejak lama digalakkan oleh negara, tetapi pada kenyataannya banyak keluarga yang memiliki anggota inti lebih dari empat orang.

Alkitab sendiri tidak mencatat berapa banyak anak yang sebaiknya dimiliki oleh sepasang suami-istri. Ayat yang sering dikutip dan diingat ketika berbicara tentang keturunan adalah ayat berisi perintah Allah kepada Adam, “beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkan itu…” (Kejadian 1:28).

Apakah ada yang salah dengan ayat Alkitab Kejadian 1:28? Tentu saja tidak! Allah tidak mungkin keliru pada saat mengucapkannya kepada Adam. Lalu, apa yang harus dipermasalahkan lagi kalau begitu?

Persoalannya bukanlah kepada ayat tersebut atau perintah Allah kepada manusia, tetapi bagaimana sebaiknya kita meresponi dengan tepat ayat Alkitab ini. Kita sudah sama-sama sepakat bahwa anak adalah anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Namun, kita sebaiknya perlu berpikir lebih jauh tentang berapakah jumlah anak di dalam keluarga kita.

Berikut adalah 3 hal yang perlu dipertimbangkan pada saat mau merencanakan jumlah anak:

1. Apakah kita akan sanggup untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga termasuk anak?

Setiap anak ada berkatnya, tetapi itu bukan berarti kita jadi tidak mempertimbangkan kondisi finansial keluarga kita. Firman Tuhan mengajarkan tentang hidup bijaksana (Amsal 2:11, Amsal 3:21).

Mengapa kita perlu hidup bijaksana? Agar kita tidak menderita, tidak terjatuh ke dalam penderitaan-penderitaan yang kita sebabkan sendiri.

Ketika dipercayakan Tuhan dengan seorang anak berarti Ia meminta pertanggungjawaban kita untuk membesarkan anak tersebut dengan baik. Bukan hanya rohani, tetapi tubuh dan jiwa dari anak itu harus kita dapat penuhi.

Sesungguhnya Tuhan tahu seberapa besar kekuatan kita sebagai orangtua dan lewat hikmat yang diberikan-Nya kepada kita maka kita akan bisa mengetahui apa yang harus dilakukan.

2. Apakah hubungan dengan pasangan akan bisa terus harmonis?

Perintah pertama ketika sepasang manusia diberkati dalam pernikahan kudus adalah hai suami kasihilah istrimu seperti kamu mengasihimu diri sendiri dan hai istri tunduklah kepada suami sama seperti kepada Tuhan (Efesus 5:28, Efesus 5:22). Perintah ini tidaklah berubah meski telah dianugerahkan anak.

Semakin banyak anak maka semakin banyak hal yang harus diperhatikan dan diurus. Jangan langsung terburu-buru mengatakan untuk persoalan tersebut, kamu dan pasangan pasti bisa mengatasinya.

Observasilah terlebih dahulu keluarga-keluarga yang memiliki banyak anak yang ada di sekelilingmu dan pasangan. Lihatlah bagaimana kehidupan mereka. Apakah suami dan istri tetap saling mengasihi atau justru kasih mereka menjadi dingin? Jika dalam observasi nanti ternyata ada tips-tips bagaimana menghangatkan kasih dengan pasangan maka yakinkan di dalam hatimu dan pasangan bahwa itu juga akan dan bisa kamu berdua praktikkan.

3. Apakah ini membahayakan nyawa istri?

Setiap kehamilan ada resiko kematian bagi sang ibu. Dengan bertambahnya usia maka potensinya tentu akan semakin tinggi juga.

Namun, jangan karena menganggap usia istri masih tergolong muda maka langsung memutuskan untuk merencanakan kehamilan selanjutnya. Pertimbangkan juga apakah kondisi istri (ibu) memang memungkinkan melakukannya. Jika tidak maka bukan hal yang salah juga untuk mengurungkan atau membatalkan niat memiliki lebih banyak anak lagi.

Memiliki anak satu atau lebih dari satu sesungguhnya tidak mengurangi kasih Tuhan kepada kita. Cinta-Nya lebih dari cukup. Berkat-Nya tetap akan terus mengalir di saat kita setia hidup di dalam jalan-Nya.

Tuhan sangat senang jika anak yang dianugerahkan kepada kita dapat kita rawat dan besarkan dengan baik. Bukankah untuk alasan inilah kita hidup di dunia?

Sumber : berbagai sumber

Bahagianya Kamu Kalau Mendapatkan Sosok Mertua Idaman Ala Naomi Dari Kisah Alkitab Ini

Sumber: http://stopnasili.cz/wp-content/uploads/

Ada seorang wanita yang tidak kunjung menikah meminta nasihat dari temannya tentang bagaimana mencari sosok suami idaman. Temannya itu tidak banyak bicara, namun satu hal yang ia pesankan kepada wanita itu adalah soal orang tua dari calon pasangan tersebut.

Pertemuan mereka kemudian ditutup dengan sebuah doa, berbunyi: “Tuhan kiranya engkau memberikan pendamping yang baik, yang sesuai dengan kehendakMu untuk menjadi suamiku kelak. Tapi jika boleh, tolong carikan aku sosok suami yang sudah tidak lagi punya orang tua. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.”

Setelah pertemuan bersama teman lamanya tersebut, wanita ini menjadi sangat tidak menyukai sosok mertua. Sebab berdasarkan cerita temannya, ada banyak wanita yang sudah menikah, kehidupannya banyak dicampuri oleh mertua mereka. Mertua tidakbertindak sebagai pembimbing dalam rumah tangga anak-anaknya, karena keinginan untuk mencampuri kehidupan anak dan menantunya malah dinilai merepotkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, persoalan dengan mertua mungkin terdengar sangat tidak asing di telinga kita. Sebenarnya, kalau kita lihat dari pihak menantu maupun mertua, kitasama-sama ingin dimengerti dan dihormati berdasarkan perannya masing-masing.

Diambil dari Rut 1:1-18, yuk kita teladani kehidupan hubungan Naomi dan anak menantunya.

1. Memberikan sikap manis pada setiap menantunya

Ayat 9b-10, “tetapi mereka menangis dengan suara keras dan berkata kepadanya: “Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu.” Dari ayat ini kita bisa melihat kalau saja Naomi tidak bersikap baik dengan menantunya, maka mereka pun tidak akan merasa berat hati saat Naomi meminta mereka untuk pergi.

Sikap manis Naomi juga diwujudkan saat ia memperlakukan menantu-menantunya seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan dalam beberapa ayat kita bisa menemukan Naomi memanggil mereka dengan sebutan anak-anakku. Setiap menantu pasti menginginkan mertuanya menganggapnya sebagai anaknya sendiri, begitu pun sebaliknya.

2. Menjadi pembimbing rohani yang baik

Sikap hidup Naomi yang takut akan Allah menjadikannya sebagai seorang teladan dalam kehidupan rohani menantu-menantunya. Sikapnya ini secara tidak langsung mendorong menantunya untuk mengenal dan percaya kepada Tuhan.

3. Tidak memaksakan kehendak pada menantu-menantunya

Ayat 11-12a, “Tetapi Naomi berkata: “Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti? Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami.”

Ada banyak mertua yang sering memaksakan kemauannya kepada anak dan menantu. Naomi tidak hanya memberikan nasihat bagi anak menantunya, tetapi juga mau mendengarkan mereka sebab ia tahu kalau setiap keputusan baiknya berasal dari menantunya tersebut.

4. Memikirkan masa depan menantunya

Ia menyadari kalau menantunya masih sangat muda saat ditingalkan anaknya, sehingga mereka membutuhkan seorang penopang hidup baginya. Pada pasal selanjutnya, yaitu Rut 3:1-5 bercerita tentang kasih yang diberikan oleh Naomi kepada anak menantunya. Disini Naomi mendorong menantunya untuk mencari suami bagi menantunya yang kini sudah menjadi seorang janda.

Kita perlu tahu kalau pernikahan tidak hanya menikahkan dua individu menjadi satu, namun juga menikahi seluruh anggota keluarganya. Mengasihi mertua seperti mengasihi orang tua sendiri dan mengasihi menantu seperti mengasihi anak sendiri dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk membangun hubungan yang baik antar keluarga.

Sumber : jawaban.com

Bukan Soal Dewasa Rohani, Alasan Inilah yang Bikin Suami Harus Jadi Imam di Rumah

Sumber: HomeWord

Kita semua tahu kalau Tuhan menyampaikan bagaimana Dia mengakui kedudukan pria dan wanita adalah sama. Tapi terlepas dari hal itu, Tuhan tetap memberi keduanya peran yang berbeda, khususnya dalam urusan rumah tangga.

Peran ini terlihat sejak dari awal ketika Tuhan menciptakan Adam, laki-laki pertama yang diberikannya mandat untuk merawat taman Eden. Perhatikanlah di Kejadian 2: 15-18, dimana Allah memberikan perintah kepada Adam untuk memimpin bahkan sebelum Hawa hadir.

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Kejadian 2: 15-18

Di ayat yang ke-18 kita melihat Tuhan berinisiatif untuk memberikan Adam seorang pendamping, yang kemudian diberikan nama Hawa. Tentu saja dari ayat sebelumnya, Tuhan memberi perintah ke Adam untuk memimpin termasuk pendampingnya, Hawa. Dia juga mendapat perintah untuk mengajar semua keluarganya karena otoritas sebagai pemimpin ada ditangannya.

Tapi tahukah kamu kalau, pemahaman alkitabiah ini kemudian mulai dianggap gak jaman lagi karena si iblis berniat untuk mencuri kepemimpinan dari tangan Adam.

Perhatikanlah bagaimana si iblis berusaha membujuk Hawa untuk melanggar perintah yang disampaikan Allah kepada Adam. Hawa mulai memimpin dan Adam mulai mengikutinya dan sisa dari sejarah itu kita pasti tahu sendiri (Kejadian 3: 1-3).

Tipuan si iblis membuat Adam gagal menjalankan perintah Tuhan. Dalam hal ini, dia gagal dalam dua hal ini.

Pertama, Adam bertindak pasif dan membiarkan Hawa mengambil alih kepemimpinan (Kejadian 3: 6). Selain itu, dia tidak membantu istrinya untuk belajar firman Tuhan dengan benar. Karena sejak awal, Tuhan sudah memerintahkan Adam menyampaikan kebenaran kepada istrinya. Tuhan sama sekali tak pernah menyampaikan perintah seperti disampaikan Ular kepada Hawa. “tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” (Kejadian 3: 3)

Ada dua pohon yang tumbuh di tengah-tengah taman Eden dan Tuhan hanya mengatakan untuk tidak memakan dari salah satu pohon itu saja. “Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 2: 9)

Kedua, Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena mereka mulai tak fokus dengan peran mereka lagi. Tapi justru fokus pada peran yang dilarang mereka. Tuhan tidak pernah mengatakan kalau Hawa tidak punya peran yang penting. Tapi dia diberi mandat untuk mendukung kepemimpinan Adam. Dengan cara inilah keduanya jatuh dalam dosa dan kehilangan segalanya.

Otoritas kepemimpin yang diberikan kepada suami juga dibuktikan dengan bagaimana Allah berbicara untuk pertama kali kepada Adam. Allah sama sekali tidak memanggil Hawa, tapi Dia memanggil Adam. Berbeda halnya dengan cara si iblis yang lebih memilih berbicara dengan Hawa daripada Adam.

Tuhan memang menciptakan laki-laki dan perempuan sesuai dengan citraNya. Keduanya sama-sama mencerminkan kemuliaan Tuhan. Keduanya harus saling melengkapi. Karena itulah saat suami bertindak sebagai imam dan istri tidak mendukung kepemimpinan itu, mereka hanya akan memakan buah dari pohon yang salah. Akibatnya, kehidupan rumah tangga hanya akan kembali kepada masa penderitaan yang dialami seperti Adam dan Hawa setelah diusir dari Taman Eden.

Nah, mungkin kamu perlu memeriksa kembali kehidupan rumah tanggamu. Entah kamu adalah suami atau istri, mulailah berusaha untuk mengembalikan kembali peran masing-masing sesuai dengan mandat Allah sejak pertama kalinya.

Sumber : Jawaban.com

Allah Gak Mau Kamu Berpikiran Negatif Lho. Inilah 5 Cara Agar Selalu Punya Pikiran Positif

Sumber: Eventbrite

Menjadi positif memang sangat sulit, apalagi ketika kita diperhadapkan dengan hal-hal yang negatif yang bikin kita kecewa dan patah hati.

Setiap tantangan yang kita hadapi akan bikin energi, ketangguhan dan keyakinan kita menjadi sedikit mundur. Nah, setelah energi positif itu habis secara perlahan, maka pesimisme mulai merayap dan memegang kendali hidup kita.

Untuk membantu kita agar memiliki energi terus positif ada lima hal yang harus kita ketahui, sadari dan harus kita lakukan.

1. Nikmati alam ciptaan Tuhan, dan keluar rumahlah!

Penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di lingkungan alam yang tenang, baik untuk kesehatan manusia, dan secara ilmiah bagus menurunkan tingkat stres bahkan bagus untuk meningkatkan memori kerja dan memberikan rasa kenyamanan.

2. Lakukan tindakan kebaikan setiap saat

Menemukan cara untuk bikin orang tersenyum akan berpengaruh pada diri kita sendiri. Kita memerlukan fokus yang bersumber dari diri kita bahkan dari masalah kita yang mungkin akan menjadi sebuah kekuatan positif dalam kehidupan orang lain

Melakukan yang baik untuk bikin orang lain merasa lebih baik, akan mengangkat suasana hati kita lebih baik, meningkatkan harga diri kita yang berfungsi sebagai pengalih perhatian kecil dari tantangan yang kita hadapi kini.

3. Tetap mengucap syukur

Memperhatikan dan menghargai hal-hal positif dalam hidup kita adalah cara yang bagus untuk membangkitkan kembali semangat kita dan memberikan kita dorongan secara mental.

Mulailah berlatih dengan rasa syukur dengan berterimakasih atas hal-hal sederhana dalam hidup kita. Bersyukurlah sebab Tuhan selalu baik.

4. Undang dirimu untuk tertawa

Tertawa adalah obat terbaik untuk mengobati rasa sakit, apapun itu sakitnya! Tertawa berfungsi memperkuat sistem kekebalan tubuh, meningkatkan suasana hati, mengurangi rasa sakit, melindungi kita dari efek stres yang merusak pikiran kita.

So, yuk temukan cara untuk tertawa sesering mungkin. Misalnya dengan menonton acara komedi, menghabiskan malam bersama teman yang bisa bikin kamu tertawa dan lain sebagainya.

5. Bergaullah dengan orang yang positif.

Pasti pernah dengar sebuah statement yang mengatakan bahwa teman-teman mempengaruhi karakter dan sikap kita. Yap! Bahkan sebuah penelitian menunjukkan bahwa stres itu menular, dan semakin kita mengelilingi diri kita dengan orang-orang yang hidup dengan kebiasaan negatif bahkan pikiran negatif maka kita akan terpengaruh juga.

Jadi pada intinya bahwa perilaku dan pola pikir kita mencerminkan teman-teman kita, mencerminkan dengan siapa kita bergaul. So berhati-hatilah memilih teman bergaul.

Sebagai anak Allah yang percaya akan Yesus Kristus, kita dituntut untuk berdiri dan memandang segala sesuatu dengan kaca mata Allah. Menjadi berkat lewat apapun dalam hidup kita, bahkan lewat masalah kita, dan langkah awal yang harus kita ambil adalah berpikiran positif. Yuk mulai bangun pikiran positif dengan 5 langkah di atas. Semoga diberkati ya!

Sumber : lifehack/jawaban

Mayoritas Penduduknya Kristen, 5 Negara Ini Justru Dipimpin Seorang Ateis

Sumber: wikimedia

Meski sebagian besar penduduknya adalah beragama Kristen ternyata sejumlah negara di dunia ini justru dipimpin oleh orang yang tidak beragama atau ateis. Walau jumlahnya tidak terlalu banyak, tetapi negara-negara ini dikenal sebagai negara maju dan besar.

Jawaban.Com berhasil mengumpulkan beberapa negara yang dimaksud dan berikut adalah hasilnya:

1. Spanyol

Negara yang berjuluk “Negeri Matador” ini baru saja memiliki seorang pemimpin pemerintahan yang baru. Pedro Sánchez terpilih menggantikan Mariano Rajoy sebagai perdana menteri.

Pada saat acara pelantikan pada Sabtu (2/6/2018), Sánchez secara tegas menolak untuk memakai Alkitab dan salib saat prosesi pengambilan sumpah jabatannya. Ia menegaskan bahwa dirinya adalah seorang ateis atau tidak memercayai Tuhan.

Pemimpin partai Sosialis tersebut juga menolak untuk mengucap “sumpah” dan menggantinya dengan “janji” karena kata itu dianggapnya yang umum digunakan.

“Aku berjanji dengan hati nurani dan kehormatan, dengan kesetiaan kepada raja, dan untuk menjaga konstitusi sebagai aturan negara yang mendasar,” ucap Sánchez dalam prosesi tersebut.

2. Yunani

Sejak 2015, negara berpenduduk mayoritas agama Kristen Orthodoks Timur ini dipimpin oleh perdana menteri Alexis Tsipras, Ketua Partai Syriza yang beraliran kiri. Setelah terpilih ketika itu, Tsipras menolak acara pelantikannya ada kesan-kesan relijius. Tsipras mengatakan bahwa itu diminta oleh dirinya karena ia adalah seorang ateis.

(Sumber: wikipedia)

3. Kroasia

Kroasia pernah dipimpin oleh perdana menteri Zoran Milanovic selama 5 tahun. Ia memulai pemerintahannya pada 2011 dan berakhir pada 2016.

Saat berkuasa, Milanovic mengeluarkan pernyataan bahwa dirinya dan para menteri non-agama dirinya tidak akan pergi ke gereja pada hari libur kenegaraan.

Apa yang dilakukan Milanovic tergolong berani mengingat 90 persen penduduk Kroasia adalah penganut agama Katolik.

4. Perancis

Pada satu kesempatan wawancara dengan jurnalis setempat pada 2002 silam, Perdana Menteri Francois Hollande mengatakan bahwa dirinya tidak meyakini adanya Tuhan.

“Saya telah sampai pada kesimpulan yang jelas bahwa bagi saya Tuhan tidak ada, bukan sebaliknya,” ujar Hollande seperti dilansir oleh Quartz.

Meski Perancis dihuni oleh beragam etnis, tetapi sebagian besar penduduknya tetaplah menganut agama Kristen.

5. Denmark

Negara yang terletak di Eropa Timur ini pernah dipimpin oleh seorang perdana menteri perempuan bernama Helle Thorning-Schmidt. Menariknya, Schmidt pernah secara terang-terangan mengatakan kepada media lokal bahwa dirinya tidak meyakini adanya kehidupan kekal, keselamatan, surga dan neraka.

Bukan hanya itu saja, Perdana Menteri Denmark periode 2011-2015 mengaku sudah lama tidak pergi ke gereja.

Sumber : tirto.id

Mengenal Figur Ayah yang Sempurna dari Bapa Surgawi Kita

Mengenal Figur Ayah yang Sempurna dari Bapa Surgawi Kita

Mazmur 68 : 5

Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 19; Efesus 2; Pengkhotbah 3-5

Aku diberkati karena punya dua ayah selama masa pertumbuhanku. Orang tuaku bercerai saat aku berusia dua tahun dan beberapa tahun kemudian, ibu menikah lagi. Aku yakin akan banyak orang yang bingung karena aku memanggil keduanya dengan panggilan ‘ayah’. Selain itu, aku juga dekat sekali dengan kakekku.

Sekarang, ini jadi orang Kristen dan punya hubungan dengan Bapa Surgawiku. Aku merasa istimewa karena punya pemahaman soal mengasihi dan menghormati lebih dari satu figur ayah dalam hidupku.

Aku tak bermaksud mengatakan kalau ada orang yang setara dengan Bapa Surgawi kita. Tapi sayangnya, orang sering berjuang dalam hubungan mereka dengan Allah saat mereka diperhadapkan dengan kondisi tak hadirnya figur ayah atau kurang idealnya ayah mereka. Dan karena itu, mereka juga berjuang saat merayakan Hari Ayah.

Aku pernah membaca sebuah artikel yang menulsi soal tindakan Hallmark memberikan kartu gratis kepada para narapidana di Hari Ibu dan Ayah. Kartu itu selalu habis setiap kali Hari Ibu, tapi sedikit sekali kartu yang benar-benar dipakai narapindana di Hari Ayah.

Inilah gambaran dari kondisi generasi kita.

Tapi terlepas dari didikan, Yesus membuat pernyataan kepada Maria setelah kebangkitanNya yang seharusnya mendorong kita semua.

“Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” (Yohanes 20: 17)

Sejak hari itu, taka da anak yang pernah jadi yatim piatu lagi.

Yesus menjembatani kesenjangan dan memberi kita semua hubungan terbuka dengan Allah Bapa kita. Dan dalam pertunjukan kasih sayang luar biasa, bahkan sebelum kita sampai kepada wahyu ini, Bapa Surgawi kita menempatkan orang-orang dalam hidup kita untuk mencerminkan Dia dan kasih-Nya bagi kita.

Bisa jadi mereka adalah guru kita, pelatih kita. Atau mungkin ayah kita adalah seorang pemilik toko kelontong yang selalu bertanya bagaimana kabarmu. Mungkin Tuhan menunjukkan diri-Nya kepadamu melalui seorang pendeta atau pemimpin sekolah minggu.

Tapi mungkin juga ada beberapa orang yang saat membaca ini masih berpikir, ‘aku tak punya orang-orang seperti ini dalam hidupku’. Aku mengerti. Iblis sudah menipu kita selama berabad-abad. Dia terobsesi untuk mengubah segala sesuatu yang baik dari Tuhan, termasuk citra seorang ayah.

Yang aku tahu pasti adalah, Tuhan sudah bekerja keras untuk memastikan kamu menemukan-Nya, melalui figure ayah yang nyata, bisa jadi ayah tiri, kakek atau hanya seorang pria yang taat. “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus..” (Mazmur 68: 5)

Seorang penulis yang tak disebutkan namanya pernah bilang:

“Ayah adalah seseorang yang akan menangkapmu sebelum kamu jatuh, juga mengangkatmu, menurunkanmu, dan mencoba menangkapmu kembali. Ayah adalah seseorang yang akan mencegahmu melakukan kesalahan, dan juga yang memungkinkanmu untuk menemukan caramu sendiri, walaupun hatinya hancur dalam keheningan saat kamu terluka. Ayah adalah seseorang yang memelukmu saat kamu menangis, menegur saat kamu melanggar peraturan, berdiri bangga saat kamu sukses dan punya keyakinan saat kamu gagal.”

Aku memilikinya. Aku sudah punya figure ayah seperti ini, bukan cuma satu. Dan sekarang aku melihat Bapa Surgawi ku ada di sana selama ini, berbicara melalui dan memakai banyak orang untuk membentukku.

Kalau hari ini aku bisa merayakan hari Ayah, aku berharap kamu juga bisa.

Hak Cipta Daphne Delay, diterjemahkan dari Cbn.com

Sumber : Cbn.com/Jawaban.com

Ketika Aku Kecewa Pada Tuhan, Inilah Tuntutanku Pada-Nya

Ketika Aku Kecewa Pada Tuhan, Inilah Tuntutanku Pada-Nya

Mazmur 73:25-26

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.

Bacaan Alkitab Setahun Amsal 18; Efesus 1; Pengkhotbah 1-2

“Aku mulai mengajukan tuntutan kepada Tuhan tak lama setelah putra pertamaku meninggal. Semuanya seperti tidak adil. Dunia terasa sangat kacau. Aku memiliki teman yang kehilangan bayinya, dan seorang anggota keluargaku yang masih sangat muda meninggal dengan tragis, saat dia baru saja membangun kehidupannya. Itu adalah seri kehidupan yang berat.

Aku tidak bisa membandingkan diri dengan Ayub, tetapi kita semua pasti berpikir mengapa hal buruk terjadi dalam hidup orang baik. Aku mencoba menelan pil pahit bernama “kedaulatan Tuhan” dan sangat sulit untuk melakukannya.

Di sisi lain, aku kelelahan jadi aku tidak punya kekuatan untuk berjuang melihat dari sudut pandangnya Tuhan.

Aku belum pernah memberontak. Aku melayani Tuhan dnegan setia sepanjang hidupku. Aku punya orangtua yang luar biasa yang mengajarkanku cara pandang dunia dan C.S. Lewis. Aku belum pernah melakukan pemberontakan hingga akhir usia 20an atau awal 30an tahun, dan hal itu akan terlihat berbeda dari usia 16an tahun. Tetapi aku masih memberontak di dalam hatiku.

Aku sangat lelah. Aku berhenti berjuang. Aku tahu banyak tentang merasa bersalah, dan batinku tidak pernah berhenti bicara. Itu terus menggangguku – bagaimana kau bisa melakukan ini atau melakukannya lebih baik lagi. Aku masih ingat cerita pada temanku, “Aku mengunci suara batinku di gudang dan menutup mulutnya dengan lakban.” Aku mengalami satu hingga dua tahun hidup dalam ketidakpedulian.

Ada saatnya dimana aku tahu apa yang benar. Aku hanya berkata, “Aku tahu Engkau Tuhan. Aku tahu aku bodoh tetapi aku cuma tidak bisa mengerti.”

Tuhan akhirnya bicara, “Akhirnya, kita bicara juga. Ini sungguh-sungguh bicara.”

Aku membuka Alkitab untuk mendapat penghiburan, dan aku mendapati banyak orang baik yang berkomitmen memberikan hidupnya pada Tuhan, dan mengalami kekalahan. Aku menggunakan hal itu sebagai saksi kasusku.

Aku mulai meneliti ulang Ayub. Kamu ngga bisa memberi seseorang keluarga kedua dan berkata itu tidak apa-apa. Dia kehilangan anak-anaknya, dan hal itu memukul bagian sensitive hidupku. Aku kuatir sewaktu kami di jalan. Aku memberitahu seseorang, “Jika sesuatu terjadi pada Kirby (putraku), aku pikir imanku tidak akan dapat bertahan.” Teman baikku menjawab, “Jika kamu bisa membuat scenario dimana imanmu ngga bisa bertahan, maka hal itu ngga akan bertahan.”

Imanku akhirnya di uji, dan aku benar-benar tidak percaya pada Tuhan. Dia tidak bekerja dalam hal ini untuk kebaikanku. Ini terdengar sudah basi. Siapa yang mengurusi orang-orang ini dan rasa sakit mereka?

Aku berkata kepada Tuhan, “Kamu harus membantuku untuk percaya kepada-Mu karena aku tidak bisa melakukannya sendiri.”

Tuhan membawaku kembali pada pria ini, dan Dia menyelidiki ulang saksiku. Aku menemukan bahwa aku bisa mengatakan Ayub ingin. “mengutuk Tuhan dan mati.” Tetapi dia masih berdiri di tengah-tengah pengadilannya dan berkata, “Aku tahu penebusku hidup.”

Jadi aku bertanya kepada Tuhan apa yang dikatakan Ayub ditengah-tengah pencobaan itu? Apa yang dikatakan Daud, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” (Mazmur 73:25).

Lalu ada juga Paulus, yang dibelenggu, yang mengatakan segala pencapaian – segala yang tampak baik dalam hidup ini adalah sampah dibandingkan dengan pengenalan akan Tuhan. Ini seperti dia memberitahuku, “Sara, aku bertemu Seorang Pribadi di tengah jalan ke Damaskus, dan aku ingin mengenal-Nya lebih lagi. Aku ingin mengenal Dia dan penderitaan-Nya. Disinilah aku bertumbuh. Disinilah kehidupanku berarti saat berada di persimpangan antara sukacita dan rasa sakit.”

Aku tidak bisa mengubah kata-kata mereka karena kau tidak bisa mengubah kesaksian mereka, dan di akhir tahun, itu juga menjadi kesaksianku. Aku seperti Daud dan berkata,”Orang fasik melihatku dan bersukacita. Sia-sia sama sekali aku mempertahankan tanganku bersih. Tapi jika kukatakan itu aku akan mengkhianatai anak-anak-Mu karena aku bersalah. Mengikutimu, melakukan apa yang benar, mengejar kesucian – sulit mengerti mengapa harus. Tetapi prinsip kehidupan-Mu itu baik, dan bersama dengan-Mu itu baik.”

Pada akhirnya Tuhanlah yang memenangkan kasusnya, dan aku merasa sangat terdesak. Segala hal ini aku pikir aku inginkan – keamanan, keamanan untuk keluargaku, rasa nyaman – itu semua baik tetapi itu bukanlah Kerajaan Allah. Itu bukanlah keseluruhan kisah yang Tuhan mau ceritakan.

Aku tidak ingin anak-anakku melihatku penuh dengan kepahitan dan sinis. Aku ingin mereka melihatku bersemangat mengenai Injil sekalipun hal itu berbahaya. Aku ingin mereka melihat aku berjalan dalam imanku. Aku ingin melayani Dia, berkata, “Aku sudah menelan pil kedaulatan, dan itu adalah kedaulatan-Mu.”

Kisah dari Sara Groves, seperti yang diceritakan kepada CBN.com, Jennifer E Jones, 2005.

Sumber : Jawaban.com

“Mengubah Cara Pandang, Pelajaran Penting dari Ilalang Liar di Halaman Belakangku

“Mengubah Cara Pandang, Pelajaran Penting dari Ilalang Liar di Halaman Belakangku

Ibrani 12: 15

Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 17; Galatia 6; 2 Tawarikh 6-7

Aku mencengkeram dengan dua tangan dan menarik keras di pagi yang cerah ini, setelah hujan, April. Tapi, tunas hijau dengan gundukan hisap putih itu hampir tak tumbang, ilalang itu saling menempel, mereka adalah penjahat di kebun mawarku. Aku melirik tetanggaku yang juga bekerja di teras halaman belakangku.

“Kamu pasti sudah melihat komplotan ini saat aku pertama ada di sini,” kataku.

Jill, membungkuk sampai pinggang, bersiul sembari memotong akar dari semak akasiaku yang tumbuh subur. Baru-baru ini, dia mengabaikan tawaranku untuk memindahkan beberapa bunga ungu ke pekarangannya.

“Aku menghabiskan banyak akhir pekan di atas ladang ranjau ini,” kataku sembari mengangkat rumput yang tak sedap dipandang itu.

“Yup. Kalau kamu tidak menanam sesuatu yang lain di tanah, apapun yang ada di sana, akan bertahan. Sulit untuk di atasi,” kata Jill menggelengkan kepalanya. Dia tahu banyak soal tanah karena dia memang dibesarkan di daerah pertanian.

Tak heran kalau komplotan ilalang ini sudah jadi mimpi buruk. Aku meyendokkan satu kaki ke bawah dan memukuli akar-akarnya. Orang-orang yang tinggal di sana sebelum aku tentu saja tak melakukan apapun untuk merapikan halaman belakang ini. Akar ilalang itu sudah tumbuh cukup dalam ke tanah dan walaupun aku menyianginya setiap tahun, sepertinya aku tak akan pernah bisa benar-benar menyingkirkannya.

Aku rindu dengan halaman belakang yang bebas rumput. Tapi hal itu seolah mustahil terjadi. Ilalang itu tumbuh di halaman rumahku. Padahal rumahku yang sebelumnya sama sekali bebas dari ilalang. Tekstur tanahnya yang tidak baik membuat ilalang tak tumbuh subur di sana. Pohon-pohon bahkan mati. Kondisi yang kualami ini seolah merupakan sesuatu yang bertolak belakang.

Pekerjaan baruku juga sedikit lebih rumit dibanding dengan pekerjaan sebelumnya. Aku pun mulai mempertimbangkan untuk berganti pekerjaan, tapi aku suka dengan pekerjaan ini. Jadi aku mendatangi konselor di suatu minggu dan mendapat saran bekerja dengan orang-orang kritis, baik di tempat kerja maupun di rumah. Aku jadi pemarah saat berada di sekitar mereka.

“Mereka tak akan berubah di usia ini,” katanya mengerutkan kening. Kamu hanya perlu mempelajari cara-cara baru untuk menghadapinya.

Aku hanya harus berurusan dengan disposisi pemarah seperti ilalang ini. Sementara aku menarik rumput liar membandal lainnya. Mungkin rumput ini membuatku sedikit terganggu kalau aku belajar bagaimana menjaga hatiku bebas dari sikap marah. Walaupun komplotan ilalang itu membuatku kesulitan, bunga mawar dan akasiaku tetap tumbuh di tengah masalah yang rumit. Tanahnya subur. Orang-orang dengan pikiran kritis juga baik-baik saja.

Seandainya aku mengabaikan ilalang ini, mungkin saja aku bisa menemukan sisi keindahannya juga. Setelah semuanya, aku punya beberapa bidang yang sudah ditanami. Semoga, lahan ini mengabaikan akar keegoisan dan kebanggaanku. Kita bisa menghasilkan keindahan dalam hidup kita kalau kita mengijinkan Tuhan memupuk hati dan pikiran kita.

Seorang pendeta pernah menyampaikan dalam khotbahnya, “Kita semua punya makhluk kecil yang suka merayap dan melahap buah roh yang Allah mau hidupi melaluiNya – kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kemurahan hati (Galatia 5: 22) Pemulihan dimulai ketika kita melepaskan kebencian dan sulit mengampuni.”

Aku jadi teringat dengan ayat Ibrani 12: 15 yang mengingatkan kita untuk tidak menjauh dari kasih karunia Allah supaya jangan ada akar kepahitan yang tumbuh dan menimbulkan kerusuhan dan kecemaran terhadap orang lain.

Mari mulai memeriksa diri kita kembali dan mulai memperbaiki cara pandang kita terhadap segala sesuatu.

Sumber : Cbn.com/Jawaban.com

Recent Posts