Sponsored Ad

Kali ini, Martini ingin menjenguk kakeknya. Foto dirinya bersama kakeknya selalu tersimpan di ponselnya, dan kenangannya bersama kakeknya tidak terlupakan.

Ia pun meminta sopir pribadinya mengantarnya ke kampung halamannya.

Karena Martini ingin pulang dengan sederhana, ia meminta sopirnya memberhentikannya di pintu masuk desa dan ia ingin berjalan kaki sendiri ke rumah lamanya. Dengan berpakaian kemeja biasa dan sangat sederhana, Martini pun turun dan berjalan kaki ke rumahnya. Tak disangka….

Ia bertemu dengan mantan pacarnya. Mantan pacarnya kini sudah mempunyai istri yang membelikannya mobil. Dengan sombong, mantan pacarnya memamerkan mobil itu dan meremehkan Martini.

“Katanya kamu pergi buka usaha? Mana? Kok pakai baju butut begini??! Lihat tuh, mobilku, ini dibelikan sama istriku! Untung dulu aku nggak nikahin kamu!”

Sponsored Ad

Martini hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perlakuan mereka terhadap dirinya. Ia tidak peduli dan terus melanjutkan perjalanannya ke rumahnya. Begitu tiba, ia melihat bibinya di luar.

“Bibi! Lama tak jumpa! Apa kabar?!”

Tak disangka bibinya melihat penampilannya lalu mulai melecehkan Martini.

“Kok kamu pakai baju compang-camping begini?! Hadeh!” tak lama kemudian, tiba-tiba bibinya terkena kotoran burung.

Bibinya langsung menyalahkan Martini. “Lihat nih, tiap ketemu sama kamu selalu saja ada hal buruk yang menimpaku! Dasar bawa sial!”

Tak lama kemudian, kakak sepupunya Roni mendengar keributan di luar, dan melihat perseturuan Martini dan ibunya.

“Loh, Martini, ngapain kamu di sini?? Jangan sentuh bajuku yah! Bajuku ini mahal, kamu nggak bakal bisa bayar!”

“Miskin begini, kamu jangan masuk rumah deh! Kamu tahu nggak, aku sekarang bekerja di perusahaan Ma, perusahaan paling gede di kota. Mana kayak kamu? Kerjanya mungut sampah kan?”

Martini yang geram lalu berkata, “Tega-teganya kalian memerlakukanku seperti ini. Aku akan buat kalian menyesal!”

“Silakan! Aku tunggu pembalasanmu!” kata Roni menantang.

Martini langsung menelepon sopirnya dan menyuruh bala bantuan. Tak lama kemudian, kakek yang dicari-carinya tiba-tiba datang.

Kakeknya baru saja pulang dari bertani. “Martini cucuku sayang….Akhirnya kamu pulang juga jenguk kakek.. Kakek tiap hari kangen kamu…”

Sponsored Ad

Roni lalu dengan tidak sopannya mengatai kakek dan Martini. “Kangen tiap hari? Ya udah, kakek ikut sama Martini saja, tiap hari mungut sampah!”

Kakek yang geram cucunya dilecehkan akhirnya geram dan memarahi Roni beserta ibunya.

Dan bala bantuan yang dipanggil Martini pun akhirnya datang.

Semua karyawan Martini keluar dan segera menunduk kepalanya dan memanggil “Direktur!”

Roni sangat kaget karena atasannya juga ada di sana dan memanggil Martini  dengan sebutan direktur.

Dengan kesal Martini pun berkata kepada Roni. “Kak, kakak pikir dengan kemampuan kakak bisa diterima dengan mudahnya di perusahaanku? Kalau bukan karena bantuanku, kakak nggak mungkin bisa kerja di sana. Aku sudah bantu kakak bertahun-tahun, nggak tahunya kakak malah sombong dan memperlakukanku seperti ini. Manager, mulai hari ini, pecat dia!”

Roni dan ibunya langsung menyesal dan tidak bisa berkata sepatah kata pun.

Martini lalu membawa kakeknya pergi dari rumah itu selamanya. Dalam hati Martini berjanji akan membuat kakeknya hidup bahagia.

Untuk apa menyombongkan harta, pekerjaan yang pada akhirnya lenyap? Untuk apa memperlakukan orang berdasarkan kekayaannya?

Bila keadaan kita lebih baik dari orang lain, kita tidak perlu menyombongkannya dan meremehkan mereka. Janganlah sombong dan congkak, karena keberhasilan yang kita raih tidak pernah lepas dari bantuan orang lain. Tanpa bantuan orang lain, kita bukanlah apa-apa.

Sumber: Youtube