• 11 Sep 2018

    Chersea

Ketika kita hanya melihat satu sisi dari orang lain dan menemukan bahwa ada satu sifat yang tidak bisa kita terima, maka itu bisa menghasilkan kebencian dan pikiran negatif sehingga akan menimbulkan prasangka terhadap orang tersebut. Pikiran yang tidak mendasar ini akan terus menyelami pikiran kita sendiri. Sama saja seperti memakai kacamata berwarna, kita tidak bisa menyingkirkan pikiran negatif dan setelah jangka waktu yang lama, kita tidak akan bisa mendapatkan kebebasan nyata.

Sponsored Ad

Malaysia telah mengedarkan sebuah video pendek yang memiliki tokoh utama bernama Awong. Awong ini selalu punya pikiran negatif terhadap orang lain. Hal ini membuatnya hanya bisa melihat satu sisi dari orang lain. Apapun yang orang lain lakukan, selalu salah di mata Awong.

Saat Awong mengendarai mobil, tiba-tiba seorang pengendara motor tak sengaja menabrak mobilnya dari belakang. Sontak ia kaget dan segera turun dari mobil. Ia pun langsung meneriaki pengendara motor dan tidak memberikan kesempatan bagi sang pengendara untuk menjelaskan apapun.

Sponsored Ad

Ketika sedang makan di pinggir jalan bersama keluarga, ada seorang pria buta menghampiri meja mereka untuk berjualan tisu toilet. Awong terus mengeluh dengan keluarganya dan berpikir bahwa pria buta ini hanya berpura-pura buta.

Ketika sedang mencuci mobil di rumah, seorang pria mengetuk pagarnya dan menawarkan dirinya untuk bekerja sebagai tukang bersih-bersih di rumah Awong. Tapi, ketika Awong melihat pria itu berpakaian lusuh, ia segera menutup pagarnya rapat-rapat.

Sponsored Ad

Bahkan terhadap keluarganya sendiri saja, ia selalu berpikiran negatif. Saat melihat putranya main HP, Awong langsung marah berkata, “apa gunanya ayah menyekolahkanmu? Biar gagal? Pergi belajar!”

Melihat istrinya masih sibuk cuci baju dan telat masak juga membuat Awong marah dan berkata, “istri macam apa kamu?!”

Sponsored Ad

Awong tidak pernah merasa bahagia di hatinya karena ia selalu menggunakan sudut pandangnya sendiri untuk melihat sesuatu. Pikirannya juga selalu penuh dengan prasangka dan pikiran negatif. Sampai suatu hari, ia bertemu dengan dirinya sewaktu kecil dan anak itu memperlihatkan sebuah tontonan yang membuatnya kebingungan…

Dari tontonan itu ia melihat dirinya sewaktu meneriaki pengendara motor yang menabraknya. Ternyata pengendara itu baru saja kehilangan istrinya beberapa jam sebelum menabrak mobil Awong.

Dan pria buta yang dikira Awong berpura-pura buta dan tidak rajin bekerja ini ternyata menjual tisu tidak hanya untuk dirinya, tapi ia juga untuk menghidupi ibunya yang buta.

Adapun pria yang diusir Awong dari rumahnya itu sebenarnya adalah seorang kepala keluarga yang sedang merantau ke luar negeri untuk bekerja. Hari itu kebetulan adalah hari ulang tahun putrinya, tapi ia hanya bisa video call dengan putrinya dalam kegelapan.

Putra Awong yang dimarahi sebelumnya itu ternyata baru saja diputusin pacarnya di sekolah dan agar keluarganya tidak khawatir melihatnya menangis, ia mencoba mengeringkan air matanya sebelum masuk rumah dan kembali ke kamar untuk bersantai.

Awong yang selalu tidak puas dengan semua orang ini tidak akan mengerti seberapa besar pengorbanan istrinya di dalam keluarganya.

Terakhir, anak kecil itu juga membangkitkan kenangan yang paling dibenci Awong. Ketika ia masih kecil, Awang sangat suka menggambar, tapi setelah ia selesai menggambar dan menunjukkan kepada ayahnya, ayahnya malah merobek lukisannya dan berkata, “apa ini? Bisa jadi uang gak?” Bayangan inilah yang selalu membuat Awong berpikiran negatif dan hidup dalam kegelapan.

Menyadari bahwa betapa tidak bahagia hatinya, Awong akhirnya tahu bahwa ia telah salah paham dengan dunia. Sejak saat itu, ia mulai peduli dengan sekelilingnya. Ketika melihat putranya menonton anime, reaksi pertama Awong adalah berusaha menonton bersama putranya. Ia tidak lagi memarahi putranya.

Awong pun melepaskan seluruh prasangka dan pikiran negatifnya. Ia mulai senang berkomunikasi dengan orang lain dan mulai mengerti pengorbanan yang sudah diberikan orang terdekatnya.

Dia mencari kembali semua orang yang telah ia salah pahami dan mulai mengajak mereka berkomunikasi dengan tulus. Ia juga mendapatkan kembali senyumnya dan merasakan apa yang disebut kebahagiaan sejati.

Untuk pertama kalinya Awong menyadari bahwa, “kita tidak akan merasa bebas sampai kita berhenti mengkritik orang lain.” Hanya ketika kamu bersedia untuk benar-benar membuka hati kamu, maka kamu akan mendapatkan kebahagiaan sejati.

Setelah membaca artikel ini, apakah kamu bisa merasakan kebebasan yang sebenarnya? Berikut videonya:

Sumber: story543