Tokoh utama dalam cerita ini adalah Dewi. Awalnya, Dewi memiliki keluarga yang harmonis. Walaupun tidak begitu kaya, namun, ayah dan ibunya sangat mencintainya. Setiap hari ayah ibunya pulang bekerja dan Dewi pulang sekolah, mereka biasanya selalu saling bercerita dan tertawa bersama. Benar-benar keluarga yang bahagia.

Tapi, suatu hari ada kabar buruk menimpa keluarga mereka. Ayahnya tiba-tiba datang ke sekolah Dewi dan mengabarkan bahwa ibunya kecelakaan mobil saat sedang perjalanan pulang ke rumah. Seketika Dewi dan ayahnya bergegas ke rumah sakit. Dewi terus berdoa agar Tuhan tidak mengambil ibunya. Sayangnya, karena cedera yang terlalu serius, ibunya menghembuskan napas terakhirnya. Dewi tiba-tiba langsung menjadi anak piatu.

Setelah hari pemakaman ibunya selesai, Dewi dan ayahnya sama-sama merasa kehilangan seseorang yang sangat berharga. Dewi masih sulit merelakan kepergian ibunya yang secara tiba-tiba ini. Setiap teringat ibunya, ia pasti akan menangis. Dihibur pun malah semakin menangis.

Dan yang membuat Dewi paling tidak terima adalah saat ibunya baru saja meninggal, ayahnya sudah berkata ingin menikah lagi. Maksud ayahnya agar kelak nanti ada yang menjaga Dewi. Dan dari mulut kerabat, Dewi mendengar bahwa ayahnya menggunakan uang kompensasi dari kecelakaan ibunya sekitar 600 juta rupiah untuk diberikan kepada wanita yang akan dinikahinya. Sejak saat itu, Dewi menjadi sangat benci terhadap ayah dan ibu tirinya.

Tidak peduli dengan penolakan dari Dewi, ayahnya tetap menikah. Dan saat ibu tiri masuk ke rumah mereka, Dewi semakin menunjukkan kebenciannya. Bahkan ibu tirinya tidak diperbolehkan masuk ke kamarnya. Tapi, ini semua diterima dengan ikhlas oleh ibu tirinya dan sedikitpun ia tidak mengeluh pada ayahnya Dewi.

Saat masuk SMA, Dewi tinggal di asrama sekolah. Ia pun masih tidak bisa memaafkan ayahnya dan membenci ibu tirinya. Dalam situasi dirinya yang keras ini, nilai Dewi pun menurun banyak di kelas. Dan begitu lulus SMA, Dewi pun langsung kerja sambilan di luar. Ia jadi semakin jarang pulang ke rumah. Tapi, ayah dan ibu tirinya masih sering menelepon Dewi untuk menanyakan keadaannya, namun ini semua diabaikan oleh Dewi. Menurutnya, ayahnya masih belum bisa dimaafkan.

Sampai akhirnya Dewi sudah memiliki pacar dan sudah pada masa harus bertemu dengan orang tua untuk meminta izin menikah. Tapi, Dewi masih tidak ingin pulang. Dan suatu hari pacarnya menanyakan kapan bisa bertemu orang tua Dewi, Dewi yang kebingungan pergi ke Hongkong untuk menenangkan diri sejenak. Siapa sangka, ia malah bertemu dengan seorang peramal.

Setelah peramal itu menanyakan zodiak Dewi dan pacarnya, peramal itu juga menanyakan zodiak ayahnya..

“Pak peramal, apakah aku harus pulang ke rumah?”

“Pernikahan adalah suatu yang sakral, sebaiknya disertai dengan restu dari kedua orang tua. Dan sejauh ini yang saya lihat, segala sesuatu yang ayahmu lakukan itu ada alasannya dan tidak ada kesalahan apapun. Pulanglah ke rumah, siapa tau kamu bisa sedikit lebih lega.” kata pak peramal.

Tanpa pilihan, Dewi pun mengajak pacarnya ke rumahnya. Ayah ibunya langsung senang bukan kepalang melihat Dewi pulang ke rumah dan juga membawa pacarnya. Mereka juga menyiapkan banyak makanan untuk menyambut Dewi dan pacarnya. Saat makan, ayah Dewi terus berkata pada pacarnya untuk selalu menjaga Dewi dengan baik. Selesai makan, Dewi kembali ke kamarnya. Bertahun-tahun lamanya, kamar Dewi masih sama seperti dulu, masih bersih, sepertinya ada orang yang sering membersihkannya.

Kemudian, ayah Dewi mengetuk pintu kamarnya dan memegang sesuatu di tangannya. “Dewi, kamu bentar lagi akan menikah, tidak ada yang bisa ayah berikan. Ini adalah uang kompensasi dari orang yang mencelakakan ibumu. Selama ini ayah menyimpannya, tidak banyak, hanya 400 juta rupiah untukmu sebagai maskawin.” Mendengar hal ini, Dewi langsung kaget.

“Ayah tau kamu sangat membenci ayah. Waktu itu, semua kerabat hanya memikirkan uang kompensasinya. Waktu itu kamu masih sangat kecil, ayah tidak tahu harus bagaimana merawatmu sendirian. Ayah hanya ingin memberikan keluarga yang sempurna untukmu. Ibu tirimu adalah orang yang baik, kamu telah salah paham selama ini.”

Dewi akhirnya baru mengerti bahwa demi menjaga uang kompensasi ini, baru ayahnya menikahi ibu tirinya. Kalau dipikir-pikir, ibu tirinya selama ini sangat baik dan ayahnya hanya mencintai dirinya, tapi ia masih sangat keras. Dewi seketika pun menangis memeluk ayahnya. Di lubuk hatinya terdalam, ia berjanji akan berbakti pada ayah dan ibu tirinya.

Sumber: epochtimes