Mei dan Tian sudah berpacaran beberapa tahun, Mei adalah seorang pegawai perusahaan besar dengan gaji mencapai puluhan juta per bulan, sedangkan Tian hanya seorang sales freelance yang pemasukannya sangat tidak stabil.

Ayah Mei sejak dulu sudah tidak menyetujui hubungan putrinya dengan Tian, Mei sudah berkali- kali ingin dijodohkan dengan pasangan yang lebih mapan, namun ia selalu menolak.

Sponsored Ad

Mei selalu dengan tegas memberitahu ayah ibunya bahwa Tian merupakan satu-satunya pria yang ia cintai.

“Saya sudah yakin dengan dia, meski hidup saya kelak tidak akan terjamin, namun saya rela!”, ucap Mei.

Tidak lama kemudian, Mei dan Tian pun menikah. Tidak ada pesta mewah, tidak ada bulan madu romantis, mereka menikah dengan sangat sederhana..

Setelah menikah, Mei dan Tian hanya tinggal di sebuah kamar yang luasnya tidak sampai belasan meter persegi.

Tidak ingin istrinya terus hidup seperti ini, Tian pun bersikeras mencari cara untuk menghasilkan lebih banyak uang.

Tian akhirnya mencoba untuk melamar menjadi sales di perusahaan besar, awalnya ia menghadapi sedikit kesulitan, namun karena usaha kerasnya, karir Tian pun mendapatkan jaminan.

Di siang hari, saat teman rekan kerjanya bermalas-malasan dan “ngadem “di kantor, Tian malah terus keliling kota untuk mencari pelanggan.

Di malam hari, saat teman- temannya sudah pulang, Tian justru lembur untuk mempersiapkan dokumen yang diperlukan di esok hari.

Di pagi harinya, di saat teman- teman lain masih belum bangun, Tian sudah datang ke kantor dan merencanakan seluruh jadwal hariannya.

2 tahun kemudian, karena performa yang sangat baik, Tian pun naik jabatan menjadi Sales Manager.

Namun di waktu yang sama, Mei malah kehilangan pekerjaannya..

Tian selalu mengatakan pada Mei untuk tenang, bahkan menyuruh Mei untuk bekerja di rumah saja.

 

Di tahun pernikahan mereka yang ke-5, karir Tian sudah stabil dan ia pun menghadiahkan sebuah rumah besar untuk Mei.

Bahkan saat Mei ulang tahun, Tian memberikan “hadiah spesial”, yaitu sepucuk kertas bertuliskan: “Istriku, dua tahun lagi aku akan membelikanmu sebuah mobil Mercedes Benz.”

Di tahun pernikahan mereka yang ke-7, sebuah mobil Mercedes Benz betul- betul muncul di depan mata Mei..

Pada tahun yang sama juga, pasangan suami istri ini dikaruniai anak. Pernikahan mereka berjalan baik dan bahagia, sampai di tahun ke-10 pernikahan, kekhawatiran pun mulai muncul..

Tian sudah naik jabatan menjadi General Manager, Mei pun mulai khawatir dirinya yang sudah melebar ini sebentar lagi akan dibuang.. Ia sangat takut Tian akan memandang wanita lain yang lebih cantik..

Memang benar kata pepatah, semakin tinggi jabatan, semakin banyak juga godaan menjatuhkan. Teman- teman Tian sendiri sering kali menertawai Tian dan berkata: “Kamu sekarang sudah kaya, semua yang kamu miliki sudah diganti baru, jadi kapan ganti istri baru?”

Tetapi dengan tenang Tian langsung menjawab: “Tidak. Seumur hidup ini istri saya hanya Mei seorang. Mau ia berubah seperti apa pun, saya tetap akan memilih dia.”

Mei sendiri pun terkadang bisa menanyai Tian: “Aku sekarang sudah tidak secantik dulu, kenapa kamu masih sebaik ini padaku?”

Tian menjawab: “Bagaimana pun juga, aku tetap mencintai kamu seorang.”

“10 tahun yang lalu, kamu yang sudah mapan rela menikahiku yang sangat miskin. Saat ini, aku sudah punya uang, masakan aku meninggalkan kamu begitu saja? Di sisa hidupku ini, aku hanya akan memandang kamu seorang, tidak peduli bagaimana wajahmu, penampilanmu, kesehatanmu, aku tetap akan mencintaimu. Apalagi dulu aku tidak menyiapkan pernikahan yang indah dan layak untukmu, saat ini aku benar- benar ingin menebusnya.”

Banyak sekali orang yang mengatakan,

Orang yang bisa bersyukur, baru bisa menghargai;

Di dalam hidup ini, selain harus bersyukur dan menghargai, jangan sekali- kali melupakan orang- orang yang pernah membantu kita!

Sumber: Epochtimes