Kitab Deuterokanonika merupakan kitab yang oleh Gereja Katolik Roma dipandang sebagai bagian yang kanonik dari Perjanjian lama. Istilah Deuterokanonika sendiri berasl dari bahasa Yunani, yaitu: ‘deuteros; yang berarti ke-dua dan ‘kanon’ yang berarti tongkat/ ukuran. Yang termasuk kitab Deuterokanonika adalah: Tobit, Yudit, Tambahan-tambahan pada kitab Ester, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, Surat Yeremias, Kidung Ketiga Pemuda, Susana, Bel dan Naga, I dan II Makabe.

Kitab Deuterokanonika ini tidak terdapat dalam Alkitab Ibrani yang disebut sebagai kitab protokanonik. Dalam pandangan Kristen, kitab deuterokanonika termasuk dalam kategori kitab Apokrif; yaitu kumpulan kitab yang ditulis sesudah Perjanjian Lama bahasa Ibrani (baca: sejarah penulisan alkitab). Kumpulan kitab yang merupakan tambahan pada kitab-kitab perjanjian Lama, sehingga tidak dapat dibacakan dalam gedung-gedung gereja.

Alkitab yang diakui oleh Kristen hanya terdiri dari 66 kitab, yaitu 39 kitab-kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab-kitab Perjanjian Baru. Hanya kitab-kitab ini yang boleh dijadikan dasar ajaran; sedangkan kitab Deuterokanonika tidak termasuk (baca: perbedaan alkitab katolik dan protestan). Berikut ini akan tuhanyesus.org paparkan alasan mengapa Kristen menolak kitab Deuterokanonika.

  1. Masalah Kanon: Semasa Tuhan Yesus hidup di dunia ini, kanon Perjanjian Lama hanya 39 kitab, dan Yesus tidak mengubahnya sehingga dianggap menyetujuinya. Selain itu dalam Perjanjian Baru terdapat sekitar 260 kutipan langsung dari perjanjian lama dan pengggunaan 370 bagian dari Perjanjian Lama yang bukan kutipan langsung. Yang mendandakan bahwa baik Yesus maupun para rasul mengakui otoritas Perjanjian Lama sebagai dasar iman dan ajaran mereka. Namun mereka tidak pernah mengutip dari kitab Deuterokanoika meskipun pada masa itu kitab-kitab ini terlah beredar. Maka disimpulkan bahwa Yesus dan pra rasulnya tidak mengakui kitab Deuterokanonika sebagai Firman Tuhan.
  2. Sifat kenabian penulisnya: Para penulis kitab deuterokanonika sendiri tidak menunjukkan bahwa dirinya adalah penulis Firman Tuhan. Sebagai contoh, pada kitab Wahyu pasal 22:18-19, dinyatakan otoritas dari tulisan rasul Yohanes dalam kitab tersebut sebagai Firman Tuhan yang tidak boleh ditambahi ataupun dikurangi. Sedangkan dalam bagian akhir kitab Deuterokanonika, yaitu 2 Makabe 15:37b-38 isinya tidak menunjukkan bahwa orang tersebut menulis Firman Tuhan atas pengilhaman Roh Kudus.. Tidak ada otoritas seperti yang disebutkan padabagian akhir kitab Wahyu.
  3. Ditemukan beberapa kesalahan dalam kitab Deuterokanonika: misalnya pada kitab Yudit 1:1,7,11 yang menyebut Nebukadnezar sebagai raja Asyur di Niniwe, sedangkan pada kitab Perjanjian Lama sendiri disebutkan bahwa Nebukadnezar adalah raja Babilonia.
  4. Konsistensi doktrin dalam keseluruhan Perjanjian Lama: dalam kitab Deuterokanonika terdapat doktrin ‘keselamatan karna perbuatan baik’ atau ‘salvation by works’ yang tidak alkitabiah. Misalnya dalam Tobit 4:10; Tobit 12:9; Tobit 14:10-11a; atau Sirakh 3:3 yang menyatakan perbuatan baik seperti sedekah dapat menghapuskan dosa. Doktrin ‘salvation by works’ ini bertentangan dengan ayat-ayat dalam kitab Perjanjian Baru seperti dalam: Roma 3:27-28; Galatia 2:16a; Galatia 2:21b; dan Efesus 2:8-9 yang menyatakan bahwa manusia dibenarkan karna iman, dan diselamatkan oleh kasih karunia Allah. Pengampunan dosa merupakan pemberian Allah, bukan hasil usaha manusia itu sendiri.

Demikian artikel mengenai mengapa Kristen menolak kitab Deuterokanonika ini. Terdapat 4 alasan utama yang menyebabkan penolakan ini, yaitu bahwa Yesus serta rasulnya menyetujui kitab Ibrani yang merupakan kitab Protokanonik tanpa tambahan kitab Deuterokanonika; dengan tidak mengubahnya. Selain itu karna sifat kenabian penulisnya; ditemukan beberapa kesalahan dalam kitab Deuterokanonika; serta konsistensi doktrin dalam keseluruhan Perjanjian Lama. Anda juga bisa membaca perbedaan alkitab protestan dan katolik sebagai tambahan referensi.