Siapa yang lebih berhak mengklaim pencak silat?
Rosa Folia Verified
Rosa Folia
Indonesia dan Malaysia kembali berseteru. Kali ini tentang siapa yang lebih layak menyatakan diri sebagai pemilik pencak silat sebagai bagian dari kebudayaan tradisional. Bahkan, kedua negara saat ini telah sama-sama mendaftarkan pencak silat ke badan dunia untuk pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan (UNESCO) sebagai warisan dunia.

1. Belum ada yang bisa membuktikan dari mana pencak silat berasal

5 Hal Soal Indonesia Vs Malaysia, Rebutan Pencak Silat di UNESCOANTARA FOTO/INASGOC/Melvinas Priananda

Klaim tentang pencak silat berkaitan erat dengan pengakuan bahwa seni bela diri tersebut berasal dari sebuah negara tertentu. Nah, baik Indonesia maupun Malaysia mengajukan klaim ini. Hanya saja, masing-masing negara belum bisa mengajukan bukti autentik untuk menguatkan klaim mereka.

Notosoejitno dalam bukunya yang berjudul Sejarah Perkembangan Pencak silat di Indonesia menyebut, pencak silat sudah hadir di Indonesia sejak zaman kerajaan. Seni bela diri ini terutama berkembang pesat ketika masa Kerajaan Kahuripan pada 1019 hingga 1041 dengan nama “Eh Hok Hik” yang berarti “Maju Selangkah Memukul”—kurang lebih sama dengan gerakan dasar silat seperti yang kita tahu.

Sementara itu, Malaysia mengklaim, orang-orang Melayu berhak diberikan penghargaan karena mengembangkan pencak silat. Dikutip dari New Straits Times, Maimoon Hussein, pengurus Persatuan Dunia Seni Silat Melayu Malaysia (DSMM), berujar: “Tidak peduli apakah orang-orang Melayu ini ada di Afrika atau Kamboja, tak masalah. Silat seharusnya jadi milik rakyat. Dari sudut pandang sejarah, adalah rakyat Melayu yang mengembangkan seni bela diri ini.”

2. Indonesia terlebih dahulu mengajukan pencak silat sebagai warisan dunia

5 Hal Soal Indonesia Vs Malaysia, Rebutan Pencak Silat di UNESCOIDN Times/Helmi Shemi

Indonesia dan Malaysia telah mendaftarkan pencak silat ke UNESCO. Namun, Indonesia adalah pihak yang lebih dulu melakukan tahun 2017. “Pencak silat sudah didaftarkan ke UNESCO sejak 2017 lalu agar dimasukkan ke dalam daftar warisan budaya dunia. Proses seleksinya tengah berjalan,” kata Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Bidang Kebudayaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Jumat (8/9).

Ini juga sudah diakui oleh Malaysia yang memutuskan untuk mengikuti langkah Indonesia pada awal 2018. “Baru-baru ini DSSM berkolaborasi dengan Badan Pariwisata Malaysia untuk mendaftarkan ke UNESCO agar mengakui dan meningkatkan status silat sebagai warisan budaya dunia,” ucap Maimoon kepada MalayMail, Maret lalu.

3. Perdebatan soal pencak silat menjalar hingga ke media sosial saat Asian Games 2018

5 Hal Soal Indonesia Vs Malaysia, Rebutan Pencak Silat di UNESCOPesilat Indonesia Komang Harik Adi Putra (kiri) (ANTARA FOTO/INASGOC/Melvinas Priananda)

Kemenangan pesilat Indonesia, Komang Harik Adi Putra, di nomor tarung putra kelas tunggal E 65-70kg atas juara dunia asal Malaysia, Mohd Al-Jufferi Jamari, saat Asian Games lalu mendapat respons negatif baik dari pihak lawan maupun para pendukungnya di media sosial.

 

Jamari memutuskan untuk meninggalkan pertandingan di detik-detik terakhir karena menilai juror atau wasit tidak berlaku adil dan menguntungkan Komang. Saking kesalnya, Jamari sampai merusak dinding ruang atlet Padepokan Pencak Silat yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah.

Setelahnya, warganet pun saling beradu pendapat di media sosial. Salah satu warganet Malaysia menulis: “Indonesia pasti senang bisa mengalahkan juara dunia, tapi sayangnya dia melakukannya dengan cara kotor.” Komentar ini kemudian dibalas oleh warganet Indonesia yang menulis,”Negara kalian tak punya jiwa olahraga, tak mau menerima kekalahan. Lebih memalukan lagi adalah merusak fasilitas tuan rumah.”

4. Masing-masing negara punya cara sendiri untuk mempromosikan pencak silat

5 Hal Soal Indonesia Vs Malaysia, Rebutan Pencak Silat di UNESCOANTARA FOTO/INASGOC/Melvinas Priananda

Klaim terhadap kepemilikan pencak silat tidak hanya dilakukan melalui kata-kata saja. Pemerintah Indonesia dan Malaysia juga mempromosikannya dengan berbagai cara. Misalnya, dalam rangka memperingati bulan pendidikan dan kebudayaan pada Mei lalu Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Houston, Amerika Serikat, mengadakan pelatihan pencak silat kepada 20 praktisi.

Pada Mei 2017 lalu, situs resmi UNESCO mempublikasikan acara pertunjukan pencak silat di Paris, Prancis, dengan menyebutnya sebagai “seni bela diri tradisional asal Indonesia”.

Sementara itu, Malaysia juga tak mau ketinggalan. Seperti dilaporkan Wall Street International, silat adalah salah satu bagian industri pariwisata olahraga yang mendatangkan banyak keuntungan finansial bagi Malaysia.

Pemerintah membuat Dewan Pariwisata Olahraga yang mengurus dan mengembangkan sejumlah olahraga sebagai daya tarik wisata. Malaysia berharap dengan cara ini turis asing dapat mengenal silat lebih baik lagi, termasuk mempelajarinya di negara tersebut.

5. UNESCO punya beberapa kriteria untuk menentukan status warisan budaya dunia

5 Hal Soal Indonesia Vs Malaysia, Rebutan Pencak Silat di UNESCOANTARA FOTO/INASGOC/Melvinas Priananda

Setelah berbagai usaha yang dilakukan oleh Indonesia maupun Malaysia, pada akhirnya UNESCO akan menjadi penentu apakah pencak silat memang bisa diakui sebagai warisan budaya dunia. Untuk melakukannya, UNESCO mengacu pada beberapa kriteria. Agar bisa mendapatkan pengakuan, setidaknya harus ada satu kriteria yang wajib dipenuhi.

Kriteria utama adalah bahwa pencak silat terbukti diwariskan dari generasi ke generasi serta bahwa seni bela diri itu berbasis pada masyarakat. Selain itu, pencak silat harus terbukti sudah terintegrasi dengan masyarakat serta berkontribusi terhadap identitas budaya setempat. Untuk mengevaluasi semua kriteria ini, tentu UNESCO membutuhkan waktu yang tak sebentar.

Kira-kira Indonesia atau Malaysia yang dianggap lebih berhak mengklaim pencak silat?